Akirnya stelah 19 jam di jalan akirnya sampai jg di rumah. Memang sih bukan rumah dimana aku tumbuh dewasa, tapi disanalah keluargaku sekarang tinggal. Senangnya melihat kerukunan didesa ini, Penduduknya saling sapa klo ketemu, senyum selalu diberikan......dan yah tepo seliro itu masih ada.....
Begitu sampai rumah, kuputuskan tuk sgera melanjutlan perjalanan ke rumah mbah aja, biar sekalian capek. Sapa tau ini sgera membantuku tuk tak memikirkannya, merindukannya. Kusegarkan diri lalu bersiap-siap lagi. Dan siangnya sampailah kami disana, didesa tempat mama dibesarkan. Tak lupa kuajak mama mampir ke pasar untuk membeli bunga buat nyekar, mengunjungi pusara keluarga yang telah berpulang.
Begitu sampai, mencari posisi enak di depan pintu untuk istirahat melepas lelah. Angin yang bertiup segar segera mengantar ke peraduan. Tak peduli apa-apa lagi dan sepertinya tak ada juga yang berani menggangguku.
Sbelum sore menjelang kuakiri istirahatku. Kususuri jalan setapak berdebu ke penghujung desa. Tak peduli debu menempel, kunikmati menyusuri jalan ini. Mama masih cukup terkenal sehingga tak jarang disapa kanan kiri. Klo aku berjalan sendiri pasti jarang yang mengenalku.
Akirnya sampai juga di pemakaman itu. di tengah sawah, hening. Ku kunjungi satu persatu, mbah buyut, om tante tak lupa kukirim doa juga untuk papa, oma dan opa. Kutaburkan bunga untukmu pa, wlo ku tau bukan disini kau beristirahat.
Akirnya kutiba di pusara terakir. Tak seperti di pusara yg lain, mataku mlai berkaca-kaca. Disini terbaring adik mbah kakung. Mbah kinah biasa aku memanggilnya. Dulu dia tinggal di rumah kecil belakang rumah mbah. Waktu kecil aku senang sekali maen ke rumahnya. Dia suka kalo aku kesana, dia akan mengijinkanku bermain semauku dengan perabot dia yang seadanya. Dia menderita cacat di kakinya sehingga berjalan pincang. Tapi kalo aku datang dan itu bertepatan dengan hari pasaran, dia akan rela berjalan sangat jauh (transportasi disini sangat minim dan susah) hanya untuk membelikanku jajanan kesukaanku.
Nenekku juga akan membelikan sih, tapi rasanya tak sama. Dia begitu menyayangiku sehingga bisa saja dari semua cucu yang ada saat itu hanya aku yang mendapat jajan pasar itu. Dengan langkah yang tertatih-tatih tapi muka ceria dia akan mengulurkan oleh-oleh dari pasar itu untukku. Dia akan menemaniku bermain. Dia akan duduk bersamaku di pelataran rumah nenek pada saat bulan purnama, mengelus alisku dan menyanyikan lagu-lagu jawa yang tak bisa ku pahami saat itu.
Aku telah kehilangan dia bertahun-tahun. Tapi setiap aku mengingatnya masih saja aku menangis, atau paling tidak mataku berkaca-kaca menahan air mata. Aku kangen mbah. Dulu, dirimulah yang bisa menerima aku apa adanya. Kaulah yang tidak membedakan-bedakan, tak perlu ku berjuang membuktikan apapun padamu. Rindu aku peluk dan nyanyianmu.
Mbah Kinah, ini eka datang. Tenanglah disana. Hanya itu yang mampu kuucapkan sambil memegang pusaramu. Kukirimkan doaku mbah. Wlo ku rindu dan ingin bermanja denganmu, tapi kuiklas mbah. Kkau sudah tenang sekarang, tak dihantui rasa sakit itu. Maafkan aku tak menemanimu di saat terakirmu.
Begitu sampai rumah, kuputuskan tuk sgera melanjutlan perjalanan ke rumah mbah aja, biar sekalian capek. Sapa tau ini sgera membantuku tuk tak memikirkannya, merindukannya. Kusegarkan diri lalu bersiap-siap lagi. Dan siangnya sampailah kami disana, didesa tempat mama dibesarkan. Tak lupa kuajak mama mampir ke pasar untuk membeli bunga buat nyekar, mengunjungi pusara keluarga yang telah berpulang.
Begitu sampai, mencari posisi enak di depan pintu untuk istirahat melepas lelah. Angin yang bertiup segar segera mengantar ke peraduan. Tak peduli apa-apa lagi dan sepertinya tak ada juga yang berani menggangguku.
Sbelum sore menjelang kuakiri istirahatku. Kususuri jalan setapak berdebu ke penghujung desa. Tak peduli debu menempel, kunikmati menyusuri jalan ini. Mama masih cukup terkenal sehingga tak jarang disapa kanan kiri. Klo aku berjalan sendiri pasti jarang yang mengenalku.
Akirnya sampai juga di pemakaman itu. di tengah sawah, hening. Ku kunjungi satu persatu, mbah buyut, om tante tak lupa kukirim doa juga untuk papa, oma dan opa. Kutaburkan bunga untukmu pa, wlo ku tau bukan disini kau beristirahat.
Akirnya kutiba di pusara terakir. Tak seperti di pusara yg lain, mataku mlai berkaca-kaca. Disini terbaring adik mbah kakung. Mbah kinah biasa aku memanggilnya. Dulu dia tinggal di rumah kecil belakang rumah mbah. Waktu kecil aku senang sekali maen ke rumahnya. Dia suka kalo aku kesana, dia akan mengijinkanku bermain semauku dengan perabot dia yang seadanya. Dia menderita cacat di kakinya sehingga berjalan pincang. Tapi kalo aku datang dan itu bertepatan dengan hari pasaran, dia akan rela berjalan sangat jauh (transportasi disini sangat minim dan susah) hanya untuk membelikanku jajanan kesukaanku.
Nenekku juga akan membelikan sih, tapi rasanya tak sama. Dia begitu menyayangiku sehingga bisa saja dari semua cucu yang ada saat itu hanya aku yang mendapat jajan pasar itu. Dengan langkah yang tertatih-tatih tapi muka ceria dia akan mengulurkan oleh-oleh dari pasar itu untukku. Dia akan menemaniku bermain. Dia akan duduk bersamaku di pelataran rumah nenek pada saat bulan purnama, mengelus alisku dan menyanyikan lagu-lagu jawa yang tak bisa ku pahami saat itu.
Aku telah kehilangan dia bertahun-tahun. Tapi setiap aku mengingatnya masih saja aku menangis, atau paling tidak mataku berkaca-kaca menahan air mata. Aku kangen mbah. Dulu, dirimulah yang bisa menerima aku apa adanya. Kaulah yang tidak membedakan-bedakan, tak perlu ku berjuang membuktikan apapun padamu. Rindu aku peluk dan nyanyianmu.
Mbah Kinah, ini eka datang. Tenanglah disana. Hanya itu yang mampu kuucapkan sambil memegang pusaramu. Kukirimkan doaku mbah. Wlo ku rindu dan ingin bermanja denganmu, tapi kuiklas mbah. Kkau sudah tenang sekarang, tak dihantui rasa sakit itu. Maafkan aku tak menemanimu di saat terakirmu.
No comments:
Post a Comment