Hari ini aku diajak ke Hotel Sahid untuk cek ruangan acara besok, maklumlah suara yg dianugrahkan Tuhan ini membuatku sering diminta untuk mc. Kali ini bukan acara subkom aku sih, tp seneng aja bisa ikut bantu.
Besok tuh acaranya tentang orang hilang, Maksudnya adalah aktivis-aktivis yg diculik pada jaman orba. Nah, besok tuh mau ada film tentang Wiji Thukul dan ada juga pembacaan puisi dari anaknya (Fitri). Aku butuh cv singkat tentang Fitri, sayang dia masih otw dari solo. Ya udah deh, sambil mengisi waktu nongkrong di mccafe aku browsing tentangnya.
Ga sulit googling tentang dia, karena sudah terkenal banget (heheheheheh). Rupanya dia tidak hanya menjadi anak biologis Wiji Thukul tapi juga anak ideologisnya. Ternyata dia juga jago bikin puisi, ga hanya isi hati tentang kehilangan ayahnya tapi ada juga puisi cintanya sih.
Ga tau kenapa, beberapa puisi tentang perasaanya sepeninggal ayahnya justru masuk sekali dalam hatiku. Berkaca-kaca aku dibuatnya dengan membacanya. Sedih, marah, perjuangan dan segala hal yg dia rasakan tercermin dalam puisi2 itu. Tak banyak kata-kata muluk, lugas tapi penuh makna. Alhasil, udah duduk mojok, sendiri, berkaca-kaca pula (bodo amat ah, aq kan emang gampang terharu....hehehehehehe). Ternyata dia juga sudah menerbitkan buku tentang kumpulan puisinya ya, kemana aja ya aku ini (aih, maklum dulu kan bukan ini duniaku).
Fitri tlah menetapkan jalannya, berjuang di jalannya, bangkit dari kehilangannya. Hebat lah menurut aku. Sayang sekali, sampai dengan saat ini nasib bapaknya belum juga diketahui. Aku yakin dia tau perjuangan ini ga akan mudah dan butuh waktu lama.
Aku mungkin tak bisa berpuisi sepertinya. Aku punya cara lain, entahlah apakah apa yang aq lakukan ini cukup berarti untuk dunia ham disini. Sekecil apapun, i'll do my best. Sakit juga sih klo dibilang pekerjaan yang sia-sia dan sebagianya. Tapi aku kerjakan saja apa yang aq yakini.
22/02/2011
Besok tuh acaranya tentang orang hilang, Maksudnya adalah aktivis-aktivis yg diculik pada jaman orba. Nah, besok tuh mau ada film tentang Wiji Thukul dan ada juga pembacaan puisi dari anaknya (Fitri). Aku butuh cv singkat tentang Fitri, sayang dia masih otw dari solo. Ya udah deh, sambil mengisi waktu nongkrong di mccafe aku browsing tentangnya.
Ga sulit googling tentang dia, karena sudah terkenal banget (heheheheheh). Rupanya dia tidak hanya menjadi anak biologis Wiji Thukul tapi juga anak ideologisnya. Ternyata dia juga jago bikin puisi, ga hanya isi hati tentang kehilangan ayahnya tapi ada juga puisi cintanya sih.
Ga tau kenapa, beberapa puisi tentang perasaanya sepeninggal ayahnya justru masuk sekali dalam hatiku. Berkaca-kaca aku dibuatnya dengan membacanya. Sedih, marah, perjuangan dan segala hal yg dia rasakan tercermin dalam puisi2 itu. Tak banyak kata-kata muluk, lugas tapi penuh makna. Alhasil, udah duduk mojok, sendiri, berkaca-kaca pula (bodo amat ah, aq kan emang gampang terharu....hehehehehehe). Ternyata dia juga sudah menerbitkan buku tentang kumpulan puisinya ya, kemana aja ya aku ini (aih, maklum dulu kan bukan ini duniaku).
Fitri tlah menetapkan jalannya, berjuang di jalannya, bangkit dari kehilangannya. Hebat lah menurut aku. Sayang sekali, sampai dengan saat ini nasib bapaknya belum juga diketahui. Aku yakin dia tau perjuangan ini ga akan mudah dan butuh waktu lama.
Aku mungkin tak bisa berpuisi sepertinya. Aku punya cara lain, entahlah apakah apa yang aq lakukan ini cukup berarti untuk dunia ham disini. Sekecil apapun, i'll do my best. Sakit juga sih klo dibilang pekerjaan yang sia-sia dan sebagianya. Tapi aku kerjakan saja apa yang aq yakini.
22/02/2011
No comments:
Post a Comment