Entri Populer

Friday, 17 June 2011

Sumpah Jabatan: Aku Galau

Beberapa hari yg lalu di kantor, temanku dengan semangat menghampiri dan memberikan info bahwa sebentar lagi kami akan sumpah jabatan. Dia dan teman-teman seangkatanku tentu saja senang dengan kabar ini, tapi kenapa aku tidak ya..........

Kenapa rasanya kabar ini seakan menusuk dan mengganggu hariku. Bukankah dulu selalu diajarkan mama dan kuturuti, pekerjaan tetap dapat pensiun pula.

Dua minggu ini cukup membuatku berpikir. Satu minggu pertama aku benar-benar menikmati menjadi berpikir kritis dan memanjakan egoisme untuk idealisku. Tapi minggu selanjutnya aku kehilangan arah. Aq memang berusaha mengikuti arus, tapi hati kecilku menjerit.

Ya Tuhan, sedih kali aq melihat lingkunganku. Kenapa di bidang ini justru uang yang dicari. Sudah banyak orang yg mengerjar uang, yg penting ada, yg penting kuantitas. Lalu siapa lagi yg peduli dengan kualitas, siapa lagi yg peduli amanat.

Seringkali aku berteriak dan menyindir kalau cari uang jangan nanggung di jalur ini sekalian aja masuk korporasi.

Aku tidak munak, aku memang butuh uang. Tapi jangan sampai mengkhiati cita-cita. Aku dulu rakyat yang harus bekerja sangat keras karena ingin gaji yang besar, tapi pajak yg kubayarkan juga besar. Dulu tuh sebel banget kalo pengemban rakyat sangat belagu, dia pikir dia makan dari mana. Itu semua kan dari tetesan keringat dan air mata kami-rakyat jelata ini. Dan sekarang rasanya semakin sesak ketika aku masuk menjadi bagian yang menerima uang dari rakyat tapi tidak bisa banyak berbuat untuk rakyat bahkan sering harus mengorbankan idelisme.

Setiap aku bercerita ini selalu aja ada yg berkomentar aku terlalu idealis. Namun karena idealisme inilah aku sekarang mau ada disini. Pikirmu kenapa aq mau meninggalkan korporasi dengan gaji yang cukup untuk seorang cewek single? Akulah yang memang memilih untuk menjadi idealis, dan komentar itu hanyalah ujian atas idealisme ini.

Memang ada beberapa teman senior yang masih mempertahankan posisi idealisme mereka. Dimusuhi dan dijauhi - tentu saja. Hanya sedikit pekerjaan yg dipercayakan kepada mereka, itu pasti. Dan makin hari kayaknya aku mulai seperti itu ya. Bodo lah. Beresiko memang, apalagi masih dianggap bau kencur.

Aku memang masih bau kencur disini, tp q yakin proses akan membuatq makin berisi. Maafkan aku jika keinginanku untuk tidak selamanya berlabuh disini makin hari malah makin menjadi.

Dan terutama......

Maafkan aku karena kabar akan segera sumpah jabatan ini tak membuatku bahagia. Kalau situasinya sesuai keinginanku pasti aku dah langsung sembah sujud. Tapi situasi disini cukup membuatku terluka sehingga kabar ini justru makin membuat pusing. Apakah aku memang harus menjalani pengambilan sumpah itu? Apakah kami bisa setia dengan sumpah itu? Bukankah kalau sudah berkomitmen tak perlu disumpah pun akan maksimum berkontribusi?

Tapi inilah step yang harus ku lakukan, maka akan kulakukan. kan kukontribusikan semaksimal yang aku mampu. I dont know how it will be.

17/06/2011

No comments:

Post a Comment