April 2011
Pada waktu itu artikel ini ditulis untuk memenuhi permintaan panitia untuk membuat dua artikel sbagi tugas akhir pelatihan, pertama mengenai pelatihannya sendiri dan kedua mengenai yang menarik dari pelatihan itu. Ku pikir walaupun late post tapi tidak ada salahnya artikel ini dipublish, untuk sharing aja
Pada waktu itu artikel ini ditulis untuk memenuhi permintaan panitia untuk membuat dua artikel sbagi tugas akhir pelatihan, pertama mengenai pelatihannya sendiri dan kedua mengenai yang menarik dari pelatihan itu. Ku pikir walaupun late post tapi tidak ada salahnya artikel ini dipublish, untuk sharing aja
Ketika rekan sedivisi saya memproses surat tugasnya
untuk mengikuti pelatihan seksual, kesehatan dan hak seksual dan reproduksi
serta gender, saya mencoba menanyakan apakah saya juga bisa mengikuti. Dia
sampaikan akan mencoba menanyakan kepada panitianya dahulu. Ternyata
saya diajurkan mengajukan aplikasi terlebih dahulu untuk selanjutnya diseleksi
panitia. Senang juga waktu saya tahu bisa mengikuti pelatihan ini karena sebagai
campaigner saya selalu ingin sekali menambah wawasan, di pelatihan ini khusunya
tentang kesehatan reproduksi, agar bisa saya bagikan kepada teman, komunitas
maupun masyarakat nantinya. Saya kira untuk meningkatkan kapasitas pribadi kita
tidak perlu hanya menunggu kantor mengirimkan kita mengikuti pelatihan tapi
kita juga bisa aktif mengajukan aplikasi pelatihan-pelatihan. Saya ingin
sedikit mengulas tentang pelatihan ini.
Pertama dari segi peserta. Pesertanya cukup beragam
baik dari kalangan aparat pemerintah maupun NGOs, walaupun akhirnya tidak semua
aparat mengikuti pelatihan sampai selesai. Walapun begitu bila diadakan
pelatihan lagi semoga panitia tidak kapok mengundang perwakilan dari instansi
tersebut karena bagaimanapun juga instasi memagang peran untuk
tema ini. Sebenarnya akan lebih baik juga kalau peserta ada yang dari Komnas
Perempuan dan Kementrian Pendidikan. Peserta juga kebanyakan orang yang sudah
cukup lama berkecimpung di masalah ksesehatan reproduksi, jadi untuk isu tersebut
saya kira pengetahuan saya masih sangat pemula dibanding
yang lain. Tapi justru bisa terjadi tukar ilmu antar peserta dan tentunya sangat menyenangkan memiliki teman-teman baru ini.
Kedua dari segi narasumber dan fasilitator. Saya
kira tidak perlu berkomentar banyak karena mereka memang pakarnya dalam tema
ini. Setelah makan siang peserta mulai mengantuk saya kira ini wajar. Bisa
diatasi dengan icebreaking atau diskusi kelompok.
Ketiga dari segi modul dan materi bacaan. Materi
bacaan dan modul yang dibagikan sudah cukup baik. Bahkan disediakan kompilasi materi dalam CD.
Keempat dari segi fasilitas pelatihan. Tempatnya
lumayan bagus (maaf karena kalau saya pribadi lebih suka yang nuansa alam), namun
sayang di ruangan tidak ada fasilitas wifi jadi site internet yang
direkomendasikan fasilitator tidak bisa langsung dibuka. Kalaupun peserta tidak
diperkenankan menggunakan laptop pada saat sesi tapi pada saat instirahat tidak
ada salahnya mengakses internet. Dari sisi makanan memang cukup membuat bosan tapi tidak menjadi problem
utama.
Kelima dari segi materi. Materi yang dibahas
di pelatihan ini cukup banyak. Tujuan pelatihan ini sendiri untuk menjadi
pendidik sebaya, sehingga saya yang memang masih minim pengetahuan tentang kesehatan
reproduksi masih merasa kurang, khusunya tentang IMS dan HIV/AIDS yang belum sempat
disinggung mendalam. Untungnya
ada materi bacaan tambahan yang bisa saya baca nantinya. Maklum orang non medis
jadi perlu waktu untuk bisa menghapal semua agar bisa membagikan ke orang lain.
Di materi Mas Inung dan Mbak Cici rupanya cukup membuat beberapa rekan peserta
shock sehingga dilanjutkan pada hari berikutnya. Setelah dieksplor lebih dalam
ternyata walau ada beberapa yang kaget mereka bisa mengambil sikap atas apa
yang disampaikan. Hal yang wajar, saya sendiri juga sempat mengalami shock
seperti itu jadi saya bisa mengerti perasaan teman-teman.
Keenam
tentang lama dan waktu pelatihan. Pelatihan selama enam hari dengan materi yang
banyak ini saya kira sudah baik, namun pemilihan waktunya yang tidak
tepat karena bertepatan dengan libur keagamaan. Bukannya saya seorang yang
sangat fanatic, tapi hari libur keagamaan apapun, saya pribadi (maupun institusi
saya kira), selalu memberikan penghormatan bagi yang merayakannya dengan
mengosongkan agenda. Sayang juga ada materi yang tidak bisa saya ikuti karena saya
memilih memenuhi kebutuhan psikologis saya (mengutip kata-kata Mas Inung
yang memang saya sepakati, hehehehe).
Setiap hari pelatihan dimuali jam 08.00 sampai 17.00 saya kira tidak ada masalah dengan itu karena peserta memiliki waktu cukup untuk istirahat.
Itulah cerita seputar pelatihan pertama dari luar kantor yang kuikuti.
No comments:
Post a Comment