Entri Populer

Tuesday, 19 August 2014

Kesan terhadap Pelatihan Seksualitas, Kesehatan dan Hak Seksual & Reproduksi serta Gender


April 2011
Pada waktu itu artikel ini ditulis untuk memenuhi permintaan panitia untuk membuat dua artikel sbagi tugas akhir pelatihan, pertama mengenai pelatihannya sendiri dan kedua mengenai yang menarik dari pelatihan itu. Ku pikir walaupun late post tapi tidak ada salahnya artikel ini dipublish, untuk sharing aja

Ketika rekan sedivisi saya memproses surat tugasnya untuk mengikuti pelatihan seksual, kesehatan dan hak seksual dan reproduksi serta gender, saya mencoba menanyakan apakah saya juga bisa mengikuti. Dia sampaikan akan mencoba menanyakan kepada panitianya dahulu.  Ternyata saya diajurkan mengajukan aplikasi terlebih dahulu untuk selanjutnya diseleksi panitia. Senang juga waktu saya tahu bisa mengikuti pelatihan ini karena sebagai campaigner saya selalu ingin sekali menambah wawasan, di pelatihan ini khusunya tentang kesehatan reproduksi, agar bisa saya bagikan kepada teman, komunitas maupun masyarakat nantinya. Saya kira untuk meningkatkan kapasitas pribadi kita tidak perlu hanya menunggu kantor mengirimkan kita mengikuti pelatihan tapi kita juga bisa aktif mengajukan aplikasi pelatihan-pelatihan. Saya ingin sedikit mengulas tentang pelatihan ini.
Pertama dari segi peserta. Pesertanya cukup beragam baik dari kalangan aparat pemerintah maupun NGOs, walaupun akhirnya tidak semua aparat mengikuti pelatihan sampai selesai. Walapun begitu bila diadakan pelatihan lagi semoga panitia tidak kapok mengundang perwakilan dari instansi tersebut karena bagaimanapun juga instasi memagang peran untuk tema ini. Sebenarnya akan lebih baik juga kalau peserta ada yang dari Komnas Perempuan dan Kementrian Pendidikan. Peserta juga kebanyakan orang yang sudah cukup lama berkecimpung di masalah ksesehatan reproduksi, jadi untuk isu tersebut saya kira pengetahuan saya masih sangat pemula dibanding yang lain. Tapi justru bisa terjadi tukar ilmu antar peserta dan tentunya sangat menyenangkan memiliki teman-teman baru ini.
Kedua dari segi narasumber dan fasilitator. Saya kira tidak perlu berkomentar banyak karena mereka memang pakarnya dalam tema ini. Setelah makan siang peserta mulai mengantuk saya kira ini wajar. Bisa diatasi dengan icebreaking atau diskusi kelompok. 
Ketiga dari segi modul dan materi bacaan. Materi bacaan dan modul yang dibagikan sudah cukup baik. Bahkan disediakan kompilasi materi dalam CD.
Keempat dari segi fasilitas pelatihan. Tempatnya lumayan bagus (maaf karena kalau saya pribadi lebih suka yang nuansa alam), namun sayang di ruangan tidak ada fasilitas wifi jadi site internet yang direkomendasikan fasilitator tidak bisa langsung dibuka. Kalaupun peserta tidak diperkenankan menggunakan laptop pada saat sesi tapi pada saat instirahat tidak ada salahnya mengakses internet. Dari sisi makanan memang cukup membuat bosan tapi tidak menjadi problem utama. 
Kelima dari segi materi. Materi yang dibahas di pelatihan ini cukup banyak. Tujuan pelatihan ini sendiri untuk menjadi pendidik sebaya, sehingga saya yang memang masih minim pengetahuan tentang kesehatan reproduksi masih merasa kurang, khusunya tentang IMS dan HIV/AIDS yang belum sempat disinggung mendalam. Untungnya ada materi bacaan tambahan yang bisa saya baca nantinya. Maklum orang non medis jadi perlu waktu untuk bisa menghapal semua agar bisa membagikan ke orang lain. Di materi Mas Inung dan Mbak Cici rupanya cukup membuat beberapa rekan peserta shock sehingga dilanjutkan pada hari berikutnya. Setelah dieksplor lebih dalam ternyata walau ada beberapa yang kaget mereka bisa mengambil sikap atas apa yang disampaikan. Hal yang wajar, saya sendiri juga sempat mengalami shock seperti itu jadi saya bisa mengerti perasaan teman-teman.
Keenam tentang lama dan waktu pelatihan. Pelatihan selama enam hari dengan materi yang banyak ini saya kira sudah baik, namun pemilihan waktunya yang tidak tepat karena bertepatan dengan libur keagamaan. Bukannya saya seorang yang sangat fanatic, tapi hari libur keagamaan apapun, saya pribadi (maupun institusi saya kira), selalu memberikan penghormatan bagi yang merayakannya dengan mengosongkan agenda. Sayang juga ada materi yang tidak bisa saya ikuti karena saya memilih memenuhi kebutuhan psikologis saya (mengutip kata-kata Mas Inung yang  memang saya sepakati, hehehehe). Setiap hari pelatihan dimuali jam 08.00 sampai 17.00 saya kira tidak ada masalah dengan itu karena peserta memiliki waktu cukup untuk istirahat.
Itulah cerita seputar pelatihan pertama dari luar kantor yang kuikuti.

No comments:

Post a Comment