Entri Populer

Thursday, 21 August 2014

TRAINING-OF-TRAINERS for NHRI by ASIA PASIFIC FORUM


Pada tahun 2012, APF(Asia Pacific Forum) mengirimkan undangan ke NHRI (National Human Rights institution) anggotanya untuk mengirimkan seorang staf guna mengikuti TOT(Training fo Trainer). TOT tersebut difasilitasi oleh Chris Sidoti. Pada saat itu Pern, berasal dari Thailand dan sedang intern di KAL (kerjasama antar lembaga) Komnas HAM, menginformasikan hal ini. Saat itu pengaturan siapa staf yang akan dikirimkan mengikuti pelatihan regional memang kurang jelas jadi ketika aku diinformasikan kegiatan ini hanya tersenyum saja. Namun ternyata aku mendapat kesempatan itu, walaupun mereka terlambat menginforrmasikan hal tersebut kepadaku sehingga telah satu hari mengikuti proses online. 

Sebagai orang yang masih baru melek HAM, belum punya banyak pengalaman melakukan pendidikan HAM, tentunya hal ini sangat menyenangkan bagiku. Sebelumnya sih memang pernah mengikuti TOT gender di akhir tahun 2013, tapi pada saat itu kami lebih banyak menerima materi gender daripada tehnik-tehnik memfasilitasi karena di kantorku, dan aku sendiri tentunya, dirasa butuh tambahan pengetahuan tentang itu. Makanya di kesempatan TOT itu aku ingin belajar tentang menfasilitasi.

Ketika aku membaca TOR, aku mencari tahu siapa itu Chris Sidoti. Aku langsung jatuh hati dengan profilnya. Yah, aku merasa dia lah yang bisa membantuku meningkatkan ketrampilan dan pengetahuanku tentang fasilitator HAM.

TOT ini dibagi dalam 2 sesi, satu bulan online dan satu minggu workshop face to face di Manila-Filipina. Online training fokus pada teori mengenai pembelajaran orang dewasa dan prinsip-prinsip umumnya serta desain perencanaan, penyampaian dan evaluasi pelatihan hak asasi manusia.  Modul yang digunakan dalam tahap online ini yaitu
·           Modul 1 :  Menilai Kebutuhan Peserta (2 - 8 April 2012)
·            Modul 2 :  Bahan Pelatihan Pengembangan Pembelajaran Orang Dewasa (9-15 April 2012)
·           Modul 3 : Keterampilan Memfasilitasi (16 sampai 22 April 2012)
·           Modul 4 : Mengevaluasi Pelatihan Hak Asasi Manusia (23-29 April 2012)
Kursus ini memanfaatkan berbagai bahan bacaan, video, kuis online, tugas online dan diskusi online. Dalam diskusi online, fasilitator dan peserta bisa berdikusi mengenai suatu topic. Melalui kuis online, peserta bisa mengukur seberapa dalam tingkat pemahamannya terhadap suatu materi. Bahan bacaan dan video yang diberikan bisa menjadi sumber bacaan tambahan peserta mengenai suatu topic.
Sedangkan dalam workshop, setiap peserta pratek langsung untuk memfasilitasi sebuah sesi yang kemudian diberi masukan dari sesama peserta maupun fasilitator. Setiap peserta diminta menyajikan topiknya dengan berbagai metode yang partisipatif. Peserta juga dimungkinkan mengubah metode yang direncanakan sebelumnya agar setiap hari presentasi yang dilakukan semakin baik. 
Pada saat workshop face to face, aku sempat merasa minder. Bagaimana tidak, ternyata kebanyakan peserta TOT ini sudah cukup lama menjadi fasilitator. Apalagi ada tantangan agar semakin hari harus semakin baik tehnik yang disajikan. Akhirnya aku merubah rencana sesiku. Dengan konsultasi via YM ke Mbak Yuli, akhirnya aku mempersingkat ppt sesiku dan lebih banyak proses dengan menggunakan learning games. Malam sebelum sesi kuiisi dengan mempersiapkan games, ppt dan perlatan-peralatan yang kubutuhkan. Keesokan harinya, hari ketiga training, aku berusaha tenang dan mengisi sesiku dengan santai.

Pada awal sesi aku menyajikan permainan untuk merefresh pengetahuan kami tentang topic yang akan aku hantarkan. Ternyata mereka sangat menyukai metode pembukaan ini, sehingga sisa waktu sesiku dapat berjalan lancer. Aku banyak mendapatkan ucapan selamat karena berhasil mengisi sesi dengan ceria dan fun. Mereka tidak menyangka karena biasanya aku tidak banyak bicara namun ternyata bisa mewarnai training itu dengan fresh. Aku juga mendapat banyak input untuk meningkatkan skill menfasilitasiku. Walaupun mereka banyak yang senior, namun mereka tetap humble, tidak menjatuhkan namun selalu memberi semangat. Aku benar-benar kagum pada mereka dan ingin menjadi seperti mereka. Sisi positif menjadi yunior dalam training ini adalah mendapat banyak ilmu yang bisa kuadaptasi dengan gayaku. Bahkan kami sepakat untuk saling meniru metode untuk diterapkan pada training yang mereka lakukan di NHRInya masing-masing.

Training tersebut juga membantuku membangun kepercayaan diri. Aku juga menjadi semakin termotivasi mengikuti pelatiha-pelatihan lain, baik nasional maupun regional, untuk menambah skill fasilitasi maupun pengetahuanku. Aku juga termotivasi untuk mendapatkan optional akreditasi ”Master Trainer“.
Persaratan untuk mendapat akreditasi ‘master trainer’ tersebut adalah:
1.      Menyelesaikan seluruh proses pelatihan (online dan workshop) 
2.    Menyiapkan dan melakukan pelatihan hak asasi manusia dengan tema sistem hak asasi manusia internasional. Pelatihan ini tidak boleh lebih dari tiga jam. 
3.      Peserta harus mengirimkan laporan kegiatan dan surat rekomendasi dari instansinya ke APF paling lambat tiga bulan setelah workshop.
Pada 21 September 2012, aku mengirimkan laporan kegiatan dan surat rekomendasi yang ditanda tangani Ketua Komnas HAM untuk melengkapi persaratan medapatkan akreditasi ‘master trainer’ tersebut. Setelah memproses laporanku, akirnya aku mendapat jawaban bahwa aku memenuhi syarat untuk mendapatkan akreditasi “Master Trainer”, dan bahkan aku diminta menfasilitasi TOT regional berikutnya di Myanmar….yipiiiiii. Terima kasih Chris, Suraina, teman-teman TOT 2012, tak lupa teman KH dan teman yang lain….kalian semua membantuku menapak dunia perkerjaan ini dengan cara kalian masing-masing.






No comments:

Post a Comment