Entri Populer

Friday, 22 August 2014

Pelatihan HAM untuk Waria pada 2010

Ga sengaja nemu artikel yang gw tulis pada 5-6-2010, yah walo late publish tapi ga papa lah.



Akhir bulan April ini gw ada kegiatan pelatihan HAM bagi komunitas waria. pelatihan ini berlangsung di Depok. Acara ini merupakan kerjasama Komnas Ham dengan FKWI (Forum Komunikasi Waria Indonesia) dan Arus Pelangi. Acara dilaksanakan tanggal 29 April sampai dengan 1 Mei 2010. Tapi karena gw sebagai panitia jadi tanggal 28 malam gw dan beberapa panitia sudah berangkat ke hotel. Stelah kami tiba di hotel lalu check in dan makan malam. Selanjutnya kami rapat koordinasi terakhir dengan mereka. Temen-temen gw yang jadi fasilitator pun tak lupa mensurvei ruangan agar bisa memperoleh gambarannya.
Di hotel itu gw sekamar dengan 3 panitia lainnya, yah bilang aja 3 diva : ruth saulinas dan kridayanti meyria dan titi eka christi. Tapi karena rumah KM juga di daerah Depok jadi malam itu dia belum ikut menginap. Malam itu tak ada kejadian yang special, kami bisa beristirahat agar besok bisa fit waktu acara berlangsung. Rencananya Ruth Saulinas dan gw mau doa subuh agar kegiatan ini lancar tidak ada gangguan dari ormas2 fundamental disana. Tapi apa daya ketika kami bangun matahari sudah terlihat maka maka niat tersebut hanya berhenti sebatas niat saja.
Para peserta pelatihan ternyata sudah datang sejak jam 8 dan langsung berkumpul di ruangan. Gw  bangun kesiangan jd tanpa sarapan langsung ke ruangan untuk persiapan. Parahnya gw luga lupa ga bikin absen, untung temen-temen dari arus pelangi sudah menyiapkan. Huh…..selamat…….
Jadwal hari pertama memang padat sekali, rencananya baru akan selesai jam 20.00. Acara nonton film sbagai acara terakhir di hari pertama tidak bisa diselesaikan karena peserta sudah benar-benar kelelahan. Fasilitator dan peserta sepakat untuk meneruskan besok tapi lebih awal, dimulai jam 08.30.
What….di hari pertama sudah ada wartawan yang mau meliput. Aneh……..Bisa gawat nih klo mereka nulisnya ga bener. Kami minta mereka mengisi daftar hadir untuk memudahkan kami melakukan newstrack nantinya…..Mereka sebenarnya memang akan diundang, bukan pada saat sesi berlangsung tapi pada saat pemilihan duta waria hukum dan ham. Peliputan itu sangat menggangu kegitan dalam kelas. Well….acara hari itu lumayan berjalan lancar, wlo terkadang panitia  meng-cut sesi untuk satu dua pengumuman. Thanks God for that. Kami bertiga kemudian beristirahat.
Hari ke dua gw ga pengen terlambat sarapan lagi dunk…..Setelah 3 diva siap, kami turun ke ruangan lalu ke tempat sarapan, tapi ruth saulinas tidak mau ikut karena langsung mau menyiapakan diri menjadi fasilitator. O iya, ada yang terlupa belum gw sampein. Peserta dibagi dalam dua kelas, kelas A dan Kelas B. Tapi karena hari ini mendatangkan narasumber jadi kelas disatukan dengan fasilitatornya ruth saulinas. Kami tidak memiliki firasat apapun, dan kami memang berharap semua akan berjalan lancar.
Tapi kejadian tidak menyenangkan itu terjadi. Jam 10.30 serombongan masa FPI dan LPI menyerbu masuk ke dalam ruangan dan mengintimidasi peserta dan panitia. Mereka berteriak-teriak menyuruh membubarkan acara ini. Narasumber pun dikeroyok dan diancam. Yang membuat gw heran, rombongan itu hanya sekitar 15 orang tapi pihak polisi yang ada disana tidak berbuat apa-apa.

Bahkan ketika rombongan itu memasuki ruangan polisi-polisi itu justru berdiri di belakang mereka. Polisi itu hanya memegangi orang yang berusaha memukul narasumber dan mencoba menenangkan mereka. Dan anehnya pagi itu wartawan sudah muncul kembali sebelum acara dimulai dan mereka meliput semua aksi penyerangan itu.
Pihak hotel sepertinya ingin menambah kekacauan hari itu. Tanpa konfirmasi mereka langsung membereskan ruangan TKP.  Mereka tampaknya kaget juga dan segera melakukan rapat bersama jajarannya dan 3 petinggi kepolisian daerah depok. Mereka mendiskusikan acara itu. Kalau gw menangkap pihak hotel tidak menyukai insiden tersebut.
Sikap resepsionis hotel yang memandang dengan tatapan sinis penuh intimidasi kepada kita membuatku kecewa dengan pelayanan mereka. Gw pernah bekerja tiga tahun di bidang service, apalagi background service perusahaan gw yang dulu bukanlah service kacangan tapi service excellent yang sudah ikut ISO dan tiap tahunnya pasti nyabet juara (banggain dikit tempat yg lama), pas gw liat tuh resepsionis dah gatel tangan gw pengen gampar. Klo gw masih jd spv dah gw coaching tuh orang biar mbak resepsionis tau gimana jadi good customer service bagaimanapun kondisinya. Tau ga mbak resepsionis, lu itu ga berhadapan langsung dengan ormas itu tp kenapa lu yang jadi judes…..Gw pernah dimaki-maki langsung oleh customer dengan perkataan yang benar-benar menyakitkan hati tanpa gw tau apa sebabnya, tapi gw masih bisa bersikap baik lho dengan customer gila itu….. Kenapa mba resepsionis itu judes amit-amit ya……
Keributan itu telah mengacaukan semuanya. Dokumen-dokumen entah pada kemana. Kami selaku panitia sangat cemas apakah bisa menyelesaikan acara pelatihan itu. Sebenarnya jadwal hari ini tidak sepadat kemarin. Sesi akan berakhir jam 15.00 karena setelah itu peserta mempersiapkan diri untuk pemilihan duta hukum dan ham jam 18.00. Apa daya…mereka terpaksa diungsikan ke kantor gw sampai menunggu keadaan membaik. Komisioner gw yang waktu itu langsung dihubungi dan sgera ke TKP.
Tanpa kami sadari ternyata salah satu panitia dari tempat gw kerja dibawa polisi untuk diperiksa. Apa-apaan ini……Ibu langsung menelpon yang bersangkutan untuk segera kembali ke hotel, dan beserta ketua FKWI langsung merencanakan konferensi pers untuk menjelaskan kepada publik kegiatan apa yang sebenarnya dilakukan di hotel itu. Acara konferensi pers berlangsung jam 16.00, tapi hanya sedikit media yang mengikuti. Kami tetap meminta wartawan-wartawan itu untuk mengisi daftar hadir agar memudahkan kami melakukan newstrack. Hal ini untuk mengantisipasi agar berita salah yang sudah terlanjur menyebar tidak semakin salah kaprah.
Sejak peristiwa tadi siang gw langsung melakukan newstrack berita yang muncul sangat tidak benar. Kegiatan pelatihan itu disebut kontes waria. Ada satu media online yang beritanya bisa gw sebut ngawur, apalagi foto yang dia pasang bukan foto peserta acara pelatihan itu sendiri. Tulisan dia telah membuat opini public jadi salah kaprah. Dalam tulisannya dia menulis hasil pantaun di lokasi, selidik punya selidik ga ada nama dia di daftar hadir media. Trus dia mantau dari mana coba, memantau dari teman yang memantau kali ya. Kita kan memang suka meneruskan berita dengan ditambahin bumbu ini itu……
Masih tentang wartawan dan daftar hadir. Ketika sore itu diadakan konferensi pers ada seorang wartawan yang tidak mau mengisinya. Kami tidak mengijinkan masuk, dia pun marah-marah. Sepintas nametagnya memang dari media besar sih. Lagian hanya daftar hadir doing. Setiap kali gw ikut menangani konferensi pers di kantor gw, gw juga selalu meminta mereka mengisi daftar hadir kok, dan mereka welcome-welcome saja. Aneh……
Sore itu ketika gw lagi menjaga konferensi pers tiba-tiba sobat gw yg di JATIM telpon , ga biasnya nih. Dia langsung nanya apa gw baik-baik aja. Ternyata dia sepintas liat gw di tv saat FPI menyerbu tadi. Jadi terharu…..Tapi juga jadi takut jangan sampai mamaku liat yah…bisa tambah sakit dia….
Setelah konferensi pers dilakuin perundingan apakah acara itu tetap akan dilanjutkan atau tidak. Keputusannya acara pemilihan duta disepakati tetap akan digelar tapi dipindah ke ruangan lain. Persiapan segera dimulai, peserta pun diantar kembali ke hotel. Kasian skali mereka..pasti capek banget secara harus perjalanan pp depok-jakarta padahal malam itu harus tampil prima juga di pemilihan duta hukum dan ham.
Sebelum acara mulai, gw dan temen-temen panitia menikmati makan malam dulu. Yah……siangnya gw emang ga mau makan. Pihak hotel sebenarnya berinisiatif untuk memasukkan makan itu dalam kardus. Tapi gw masih kesel aja ama beberapa cso disana jd malas makan. Ga mungkin dunk gw ga makan lagi, bisa pingsan gw.
Acara pemilihan duta terlambat dari jadwal yang ditentukan. Yah…bisa dimaklumi lah dengan adanya kekacauan tadi siang telah merusak segalanya. Terus terang kami cemas karena katanya FPI akan datang lagi untuk membubarkan acara tersebut. Kami telah sepakat untuk tidak akan lari, kami akan berkumpul dan siap pasang badan sampai mereka mau berunding, walau dengan resiko akan babak belur. Kalo ga gini acara lain kali pasti akan bernasib sama, karena itu kami tidak takut resikonya akan kami hadapi.
Kuberitahu bapakku untuk meminta doa, tak sanggup kuberitahu mama karna bisa tambah sakit dia. Tak lupa gw minta didoain sobat-sobat gw agar semua berjalan lancar.
Bukan FPI yang datang tapi satpol pp. Huh…apa lagi ini????……Mereka bilang kegiatan ini tidak ada ijinnya. Please deh, ijin kan udah diurus. Anehnya ada polisi di tempat itu tapi mereka malah kalah sama satpol pp. Masak penegak undang-undang kalah ma penegak perda. Mereka ngotot acara itu harus selesai jam 22.00 dan pihak hotel ternyata telah menyepakati itu. Karena molor pukul 22.00 acara belum selesai. Dengan teganya pihak hotel mematikan ac dan soundsystem di ruangn tersebut. Kayaknya mereka juga berencana mematikan lampu, untung aja ada panitia yg inisiatif menjaga dieselnya.
Acara kami lanjutkan wlo dengan seadanya sampai akhirnya terpilih Seruni dari Jakarta sebagai duta hukum dan ham. Kemudian kami keluar ruangan tersebut bersama-sama melalui jalan pengamanan darurat. Baru deh pihak hotel membantu mengamankan peserta. Yah sedikiiiiiiiiiit mengobati kekecewaan lah…….
Setelah acara selesai ibu komisioner diwawancarai beberapa media…..Yah gw secara personel sangat menyayangkan sikap hotel, polisi beberapa media yang nulisnya ga bener, satpol pp dan terutama FPI atas kegaiatan kami. Kami tidak akan tinggal diam. Narasumber kami sudah melakukan pelaporan insiden pemukulannya ke polda. Ibu komisioner pun menegaskan akan melaporkan ini ke polda juga dan mendagri tentunya.
Peristiwa ini membuat pikiran  sedikit tergelitik. Kami ini kan hanya ingin menyelenggarakan pelatihan ham dasar bagi komunitas waria. Mereka juga warga negara kita kan, jadi sudah sewajarnya mereka diberitahu hak-haknya sebagai warga negara. Apakah ada yang salah dengan itu, ingat ini semua terlepas dari benar tidaknya pilihan hidup mereka berdasarkan agama dan perlu diingat ini acara pelatihan ham yang notabene untuk semua komunitas tanpa ada diskriminasi sedikit pun. Kenapa selalu saja orang beranggapan bahwa ketika waria-waria bekumpul yang ada adalah pornoaksi saja. Sekali lagi mereka juga warga negara kita yang patut tahu hak-hak mereka sebagai warga negara.  
Sangat disayangkan sekali aksi anarki FPI itu. Mereka seharusnya bisa menanyakan baik-baik dulu kegiatan apa yang sedang berlangsung, tidak semua harus diselesaikan dengan kekerasan kan. Apalagi mendengar ancaman mereka dan makian mereka kepada kami. Kami dibilang penghianat negara, kurang kerjaan, siap menerima laknat….wow……siapa yang lebih berkianat, kami atau para koruptor ???????? Setelah kejadian itu acara pelatihan yang tidak pernah kita publikasikan ke media massa akhirnya kita buka ke public melalui konferensi pers sore itu. Gw jd beranggapan bahwa membubarkan acara ini memang adalah target mereka. Ketika FPI harus berhadapan dengan lembaga negara, akhirnya mereka meminta sesama aparat pemerintah lah yang bertindak (sekali lagi ini pikiran rese gw aja, namanya juga curhatan yg subyektif)….yup akhirnya satpol pp maju walaupun sudah ada polisi disana rupanya masih menang pamor satpol pp……Baru kali ini gw jumpai.
Wlo sudah tengah malam kami tetap rapat membicarakan tindak lanjutnya karena sebenarnya masih ada sesi yang belum selesai yang terpaksa dihentikan saat FPI menyerbu. Setelah adu argument yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya diambil keputusan acara besok tetap akan dilanjutkan guna menyelesaikan acara pelatihan ini. Peserta akan dibawa ke kantor lagi agar keamanan lebih terjamin.
Setelah rapat kami beristirahat. Esoknya slesai mandi kami langsng sarapan. 3 diva ke kantor duluan untuk membantu persiapan sesi disana. Hari itu gw ga terlalu banyak memantau apa yang terjadi di kelas karena gw harus menyelesaikan kerjaan administratif gw, termasuk melengkapi kembali dokumen-dokumen yang hilang. Hari terakhir berjalan lancar….Seperti yang gw duga sebelumnya, waria-waria itu adalah sosok-sosk yang kuat. Jadi keesokan harinya tak terlihat sedikitpun beban atau ketakutan di wajah mereka. Mereka masih semangat sekali mengikuti sesi terakhir. Justru kami panitia yang sempat kawatir karena di tempat yang sama juga akan dilakuakn pemeriksaan untuk kasus priok dimana banyak FPI yang datang. Salut gw….u are the best gals…….
Akhirnya slesai juga acara itu, tinggal beres dan pulang.
Pengalaman yang ga bakalan gw lupain. Wlo di awal-awal banyak yang komen di berita menyakitkan hati bahkan sampai ada yg mengutuk penitia yg menyelenggarakan acara itu, tapi ya sudahlah. Agak kesel juga sih ma reporter yang nulis berita dengan lebay jadi menyudutkan kita-kita. Hari ini gw newstrack lagi berita2 ternyata dah tidak semenakutkan kmarin….sudahlah…….berserah saja…..Tuhan terjadilah padaku menurut kehendakmu.



3 comments:

  1. btw knapa nama gw jadi ruth saulinas yak?? hahahahaha

    ReplyDelete
  2. knapa nama gw jadi ruth saulinas yak?

    ReplyDelete
  3. ini ceritanya mau dijadiin cerpen jadi nama gaka tidak sebenarnya, hehehehe

    ReplyDelete