Ga sengaja nemu artikel yang gw tulis pada 5-6-2010, yah walo late publish tapi ga papa lah.
Akhir bulan April ini gw ada kegiatan pelatihan HAM bagi
komunitas waria. pelatihan ini berlangsung di Depok. Acara ini merupakan kerjasama Komnas Ham dengan FKWI (Forum Komunikasi Waria Indonesia) dan Arus
Pelangi. Acara dilaksanakan tanggal 29 April sampai dengan 1 Mei 2010. Tapi
karena gw sebagai panitia jadi tanggal 28 malam gw dan beberapa panitia sudah
berangkat ke hotel. Stelah kami tiba di hotel lalu check in dan makan malam. Selanjutnya kami rapat koordinasi terakhir dengan mereka. Temen-temen gw yang jadi
fasilitator pun tak lupa mensurvei ruangan agar bisa memperoleh gambarannya.
Di hotel itu gw sekamar dengan 3 panitia lainnya, yah bilang
aja 3 diva : ruth saulinas dan kridayanti meyria dan titi eka christi. Tapi
karena rumah KM juga di daerah Depok jadi malam itu dia belum ikut menginap.
Malam itu tak ada kejadian yang special, kami bisa beristirahat agar besok bisa
fit waktu acara berlangsung. Rencananya Ruth Saulinas dan gw mau doa subuh agar
kegiatan ini lancar tidak ada gangguan dari ormas2 fundamental disana. Tapi apa
daya ketika kami bangun matahari sudah terlihat maka maka niat tersebut hanya
berhenti sebatas niat saja.
Para peserta pelatihan ternyata sudah datang sejak jam 8 dan
langsung berkumpul di ruangan. Gw bangun
kesiangan jd tanpa sarapan langsung ke ruangan untuk persiapan. Parahnya gw
luga lupa ga bikin absen, untung temen-temen dari arus pelangi sudah menyiapkan.
Huh…..selamat…….
Jadwal hari pertama memang padat sekali, rencananya baru
akan selesai jam 20.00. Acara nonton film sbagai acara terakhir di hari pertama
tidak bisa diselesaikan karena peserta sudah benar-benar kelelahan. Fasilitator
dan peserta sepakat untuk meneruskan besok tapi lebih awal, dimulai jam 08.30.
What….di hari pertama sudah ada wartawan yang mau meliput.
Aneh……..Bisa gawat nih klo mereka nulisnya ga bener. Kami minta mereka mengisi
daftar hadir untuk memudahkan kami melakukan newstrack nantinya…..Mereka
sebenarnya memang akan diundang, bukan pada saat sesi berlangsung tapi pada
saat pemilihan duta waria hukum dan ham. Peliputan itu sangat menggangu kegitan
dalam kelas. Well….acara hari itu lumayan berjalan lancar, wlo terkadang
panitia meng-cut sesi untuk satu dua pengumuman.
Thanks God for that. Kami bertiga kemudian beristirahat.
Hari ke dua gw ga pengen terlambat sarapan lagi
dunk…..Setelah 3 diva siap, kami turun ke ruangan lalu ke tempat sarapan, tapi
ruth saulinas tidak mau ikut karena langsung mau menyiapakan diri menjadi
fasilitator. O iya, ada yang terlupa belum gw sampein. Peserta dibagi dalam dua
kelas, kelas A dan Kelas B. Tapi karena hari ini mendatangkan narasumber jadi
kelas disatukan dengan fasilitatornya ruth saulinas. Kami tidak memiliki
firasat apapun, dan kami memang berharap semua akan berjalan lancar.
Tapi kejadian tidak menyenangkan itu terjadi. Jam 10.30
serombongan masa FPI dan LPI menyerbu masuk ke dalam ruangan dan mengintimidasi
peserta dan panitia. Mereka berteriak-teriak menyuruh membubarkan acara ini.
Narasumber pun dikeroyok dan diancam. Yang membuat gw heran, rombongan itu
hanya sekitar 15 orang tapi pihak polisi yang ada disana tidak berbuat apa-apa.
Bahkan ketika rombongan itu memasuki ruangan polisi-polisi itu justru berdiri di belakang mereka. Polisi itu hanya memegangi orang yang berusaha memukul narasumber dan mencoba menenangkan mereka. Dan anehnya pagi itu wartawan sudah muncul kembali sebelum acara dimulai dan mereka meliput semua aksi penyerangan itu.
Bahkan ketika rombongan itu memasuki ruangan polisi-polisi itu justru berdiri di belakang mereka. Polisi itu hanya memegangi orang yang berusaha memukul narasumber dan mencoba menenangkan mereka. Dan anehnya pagi itu wartawan sudah muncul kembali sebelum acara dimulai dan mereka meliput semua aksi penyerangan itu.
Pihak hotel sepertinya ingin menambah kekacauan hari itu.
Tanpa konfirmasi mereka langsung membereskan ruangan TKP. Mereka tampaknya kaget juga dan segera
melakukan rapat bersama jajarannya dan 3 petinggi kepolisian daerah depok.
Mereka mendiskusikan acara itu. Kalau gw menangkap pihak hotel tidak menyukai
insiden tersebut.
Sikap resepsionis hotel yang memandang dengan tatapan sinis
penuh intimidasi kepada kita membuatku kecewa dengan pelayanan mereka. Gw
pernah bekerja tiga tahun di bidang service, apalagi background service perusahaan
gw yang dulu bukanlah service kacangan tapi service excellent yang sudah ikut
ISO dan tiap tahunnya pasti nyabet juara (banggain dikit tempat yg lama), pas
gw liat tuh resepsionis dah gatel tangan gw pengen gampar. Klo gw masih jd spv
dah gw coaching tuh orang biar mbak resepsionis tau gimana jadi good customer
service bagaimanapun kondisinya. Tau ga mbak resepsionis, lu itu ga berhadapan
langsung dengan ormas itu tp kenapa lu yang jadi judes…..Gw pernah dimaki-maki
langsung oleh customer dengan perkataan yang benar-benar menyakitkan hati tanpa gw
tau apa sebabnya, tapi gw masih bisa bersikap baik lho dengan customer gila
itu….. Kenapa mba resepsionis itu judes amit-amit ya……
Keributan itu telah mengacaukan semuanya. Dokumen-dokumen entah
pada kemana. Kami selaku panitia sangat cemas apakah bisa menyelesaikan acara
pelatihan itu. Sebenarnya jadwal hari ini tidak sepadat kemarin. Sesi akan
berakhir jam 15.00 karena setelah itu peserta mempersiapkan diri untuk
pemilihan duta hukum dan ham jam 18.00. Apa daya…mereka terpaksa diungsikan ke
kantor gw sampai menunggu keadaan membaik. Komisioner gw yang waktu itu
langsung dihubungi dan sgera ke TKP.
Tanpa kami sadari ternyata salah satu panitia dari tempat gw
kerja dibawa polisi untuk diperiksa. Apa-apaan ini……Ibu langsung menelpon yang
bersangkutan untuk segera kembali ke hotel, dan beserta ketua FKWI langsung
merencanakan konferensi pers untuk menjelaskan kepada publik kegiatan apa yang
sebenarnya dilakukan di hotel itu. Acara konferensi pers berlangsung jam 16.00,
tapi hanya sedikit media yang mengikuti. Kami tetap meminta wartawan-wartawan itu untuk
mengisi daftar hadir agar memudahkan kami melakukan newstrack. Hal ini untuk
mengantisipasi agar berita salah yang sudah terlanjur menyebar tidak semakin
salah kaprah.
Sejak peristiwa tadi siang gw langsung melakukan newstrack
berita yang muncul sangat tidak benar. Kegiatan pelatihan itu disebut kontes
waria. Ada satu media online yang beritanya bisa gw sebut ngawur, apalagi foto
yang dia pasang bukan foto peserta acara pelatihan itu sendiri. Tulisan dia
telah membuat opini public jadi salah kaprah. Dalam tulisannya dia menulis
hasil pantaun di lokasi, selidik punya selidik ga ada nama dia di daftar hadir
media. Trus dia mantau dari mana coba, memantau dari teman yang memantau kali
ya. Kita kan memang suka meneruskan berita dengan ditambahin bumbu ini itu……
Masih tentang wartawan dan daftar hadir. Ketika sore itu
diadakan konferensi pers ada seorang wartawan yang tidak mau mengisinya. Kami
tidak mengijinkan masuk, dia pun marah-marah. Sepintas nametagnya memang dari media
besar sih. Lagian hanya daftar hadir doing. Setiap kali gw ikut menangani
konferensi pers di kantor gw, gw juga selalu meminta mereka mengisi daftar
hadir kok, dan mereka welcome-welcome saja. Aneh……
Sore itu ketika gw lagi menjaga konferensi pers tiba-tiba sobat
gw yg di JATIM telpon , ga biasnya nih. Dia langsung nanya apa gw baik-baik aja.
Ternyata dia sepintas liat gw di tv saat FPI menyerbu tadi. Jadi terharu…..Tapi
juga jadi takut jangan sampai mamaku liat yah…bisa tambah sakit dia….
Setelah konferensi pers dilakuin perundingan apakah acara
itu tetap akan dilanjutkan atau tidak. Keputusannya acara pemilihan duta
disepakati tetap akan digelar tapi dipindah ke ruangan lain. Persiapan segera
dimulai, peserta pun diantar kembali ke hotel. Kasian skali mereka..pasti capek
banget secara harus perjalanan pp depok-jakarta padahal malam itu harus tampil
prima juga di pemilihan duta hukum dan ham.
Sebelum acara mulai, gw dan temen-temen panitia menikmati makan
malam dulu. Yah……siangnya gw emang ga mau makan. Pihak hotel sebenarnya
berinisiatif untuk memasukkan makan itu dalam kardus. Tapi gw masih kesel aja
ama beberapa cso disana jd malas makan. Ga mungkin dunk gw ga makan lagi, bisa
pingsan gw.
Acara pemilihan duta terlambat dari jadwal yang ditentukan.
Yah…bisa dimaklumi lah dengan adanya kekacauan tadi siang telah merusak
segalanya. Terus terang kami cemas karena katanya FPI akan datang lagi untuk
membubarkan acara tersebut. Kami telah sepakat untuk tidak akan lari, kami akan
berkumpul dan siap pasang badan sampai mereka mau berunding, walau dengan
resiko akan babak belur. Kalo ga gini acara lain kali pasti akan bernasib sama,
karena itu kami tidak takut resikonya akan kami hadapi.
Kuberitahu bapakku untuk meminta doa, tak sanggup kuberitahu
mama karna bisa tambah sakit dia. Tak lupa gw minta didoain sobat-sobat gw agar
semua berjalan lancar.
Bukan FPI yang datang tapi satpol pp. Huh…apa lagi
ini????……Mereka bilang kegiatan ini tidak ada ijinnya. Please deh, ijin kan
udah diurus. Anehnya ada polisi di tempat itu tapi mereka malah kalah sama
satpol pp. Masak penegak undang-undang kalah ma penegak perda. Mereka ngotot
acara itu harus selesai jam 22.00 dan pihak hotel ternyata telah menyepakati
itu. Karena molor pukul 22.00 acara belum selesai. Dengan teganya pihak hotel
mematikan ac dan soundsystem di ruangn tersebut. Kayaknya mereka juga berencana
mematikan lampu, untung aja ada panitia yg inisiatif menjaga dieselnya.
Acara kami lanjutkan wlo dengan seadanya sampai akhirnya
terpilih Seruni dari Jakarta sebagai duta hukum dan ham. Kemudian kami keluar
ruangan tersebut bersama-sama melalui jalan pengamanan darurat. Baru deh pihak
hotel membantu mengamankan peserta. Yah sedikiiiiiiiiiit mengobati kekecewaan
lah…….
Setelah acara selesai
ibu komisioner diwawancarai beberapa media…..Yah gw secara personel sangat
menyayangkan sikap hotel, polisi beberapa media yang nulisnya ga bener, satpol
pp dan terutama FPI atas kegaiatan kami. Kami tidak akan tinggal diam.
Narasumber kami sudah melakukan pelaporan insiden pemukulannya ke polda. Ibu
komisioner pun menegaskan akan melaporkan ini ke polda juga dan mendagri
tentunya.
Peristiwa ini membuat pikiran sedikit tergelitik. Kami ini kan hanya ingin
menyelenggarakan pelatihan ham dasar bagi komunitas waria. Mereka juga warga
negara kita kan, jadi sudah sewajarnya mereka diberitahu hak-haknya sebagai
warga negara. Apakah ada yang salah dengan itu, ingat ini semua terlepas dari
benar tidaknya pilihan hidup mereka berdasarkan agama dan perlu diingat ini
acara pelatihan ham yang notabene untuk semua komunitas tanpa ada diskriminasi
sedikit pun. Kenapa selalu saja orang beranggapan bahwa ketika waria-waria
bekumpul yang ada adalah pornoaksi saja. Sekali lagi mereka juga warga negara
kita yang patut tahu hak-hak mereka sebagai warga negara.
Sangat disayangkan sekali aksi anarki FPI itu. Mereka
seharusnya bisa menanyakan baik-baik dulu kegiatan apa yang sedang
berlangsung, tidak semua harus diselesaikan dengan kekerasan kan. Apalagi
mendengar ancaman mereka dan makian mereka kepada kami. Kami dibilang
penghianat negara, kurang kerjaan, siap menerima laknat….wow……siapa yang lebih
berkianat, kami atau para koruptor ???????? Setelah kejadian itu acara
pelatihan yang tidak pernah kita publikasikan ke media massa akhirnya kita buka
ke public melalui konferensi pers sore itu. Gw jd beranggapan bahwa membubarkan
acara ini memang adalah target mereka. Ketika FPI harus berhadapan dengan
lembaga negara, akhirnya mereka meminta sesama aparat pemerintah lah yang
bertindak (sekali lagi ini pikiran rese gw aja, namanya juga curhatan yg
subyektif)….yup akhirnya satpol pp maju walaupun sudah ada polisi disana
rupanya masih menang pamor satpol pp……Baru kali ini gw jumpai.
Wlo sudah tengah malam kami tetap rapat membicarakan tindak
lanjutnya karena sebenarnya masih ada sesi yang belum selesai yang terpaksa
dihentikan saat FPI menyerbu. Setelah adu argument yang cukup panjang dan
melelahkan akhirnya diambil keputusan acara besok tetap akan dilanjutkan guna
menyelesaikan acara pelatihan ini. Peserta akan dibawa ke kantor lagi agar
keamanan lebih terjamin.
Setelah rapat kami beristirahat. Esoknya slesai mandi kami
langsng sarapan. 3 diva ke kantor duluan untuk membantu persiapan sesi disana.
Hari itu gw ga terlalu banyak memantau apa yang terjadi di kelas karena gw
harus menyelesaikan kerjaan administratif gw, termasuk melengkapi kembali
dokumen-dokumen yang hilang. Hari terakhir berjalan lancar….Seperti yang gw
duga sebelumnya, waria-waria itu adalah sosok-sosk yang kuat. Jadi keesokan
harinya tak terlihat sedikitpun beban atau ketakutan di wajah mereka. Mereka
masih semangat sekali mengikuti sesi terakhir. Justru kami panitia yang sempat
kawatir karena di tempat yang sama juga akan dilakuakn pemeriksaan untuk kasus
priok dimana banyak FPI yang datang. Salut gw….u are the best gals…….
Akhirnya slesai juga acara itu, tinggal beres dan pulang.
Pengalaman yang ga bakalan gw lupain. Wlo di awal-awal banyak
yang komen di berita menyakitkan hati bahkan sampai ada yg mengutuk penitia yg
menyelenggarakan acara itu, tapi ya sudahlah. Agak kesel juga sih ma reporter
yang nulis berita dengan lebay jadi menyudutkan kita-kita. Hari ini gw
newstrack lagi berita2 ternyata dah tidak semenakutkan
kmarin….sudahlah…….berserah saja…..Tuhan terjadilah padaku menurut kehendakmu.
btw knapa nama gw jadi ruth saulinas yak?? hahahahaha
ReplyDeleteknapa nama gw jadi ruth saulinas yak?
ReplyDeleteini ceritanya mau dijadiin cerpen jadi nama gaka tidak sebenarnya, hehehehe
ReplyDelete