Entri Populer

Friday, 6 January 2012

Aku dan Tuhanku

Aku dan Tuhanku.....
Hubungan kami membuat beberapa orang bertanya. Seberapa dekat, seberapa intens, dan lain-lain.

Ada yang bilang aku ini cukup taat karena menurutnya aku masih suka ke gereja atau hapal lagu dan prosesi ritualnya. Ada yang bilang aku abangan karena ga rajin berdoa, renungan harian atau baca kitab suci.

Biarkan saja berkomentar sesuka hati. Hubunganku dengan Tuhanku cukup aku yang tahu. menurutku hubungan ini adalah ranah yang sangat private, bahkan orang tua atau pacarku pun sekalipun ga boleh mencampurinya. Bertanya silahkan, soal dijawab atau ga itu kan hak aku. Hehehehe....

Aku menganggap ini ranah yang sangat private tidak dengan begitu saja, atau bukan karena pelajaran PKN yang sering mengajarkan bahwa hak asasi yang paling asasi adalah memeluk agama. Tidak hanya itu, semua ada prosesnya.

Ada proses dimana aku sangat aktif di gereja. Jadi misdinar, jadi lektor, ikut koor, mudika, dll.
Ada proses dimana aku sekolah tapi tidak bisa mendapat pelajaran agama karena ga ada gurunya. Aku malas keluar jadi di dalam kelas aja, tukar duduk ma temenku yang dipojok dan asik sendiri. Yah waktu itu aku cukup encer mengingat jadi ga heran juga sih kalau ada satu dua surat yang aku hapal. Atau aku tau jawabannya apa pada saat teman-temanku ulangan. Hehehehe.
Ada proses dimana bersekolah yang akirnya tidak hanya aku seorang yang berbeda agama dan ada guru pelajaran agamanya.
Ada proses dimana ada guru yang memaksaku menulis bismilah di kerta ulangan dan ku tolak. Aku sadar sih dengan konsekuensinya, nilaku pasti tidak semestinya. Yah boleh dibilang aku narsis, tapi untuk pelajaran satu itu aku tau diri kalo top di kelas. Wakakakaka......dan terbukti nilai raporku standar aja, but at final exam, dimana ga mungkin guru itu cawe-cawe di perolehan nilai, aku terbaik dunk se-sekolahan dan mungkin juga di sekolah lain (narsis.com)
Ada proses aku yang megang komunitas mahasiswa katolik di suatu wilayah.
Ada proses aku cukup fanatik dengan membuat janji sahabat ga akan menikah dengan yang beda agama. in fact, pacar aku sering beda agama. Wakakakaka. Tapi kan sampai dengan saat ini aku blum nikah.
Ada proses dimana aku komentar ke sodaraku yang galau milih agama. Dalam hati masih yakin dengan imannya, sisi lain ada suami yang ingin diikuti.
Ada proses dimana aku sangat kesal pada Tuhanku karena tidak menolongku di saat aku sangat membutuhkanNya, berteriak minta tolong namun tidak dijawab dan akhirnya aku terpuruk dengan cobaan yang ada dan trauma.
Ada proses dimana aku bahagia dengan hal-hal atau pencapaian yang aku peroleh karena memang aku minta padaNya dalam doaku.
Dan proses yang gak kalah penting adalah dimana aku iseng membaca buku tentang agama. Kemudian aku mempertanyakan agama dan keberadaan Tuhan sendiri dan akhirnya setelah diam merenung aku memutuskan bagaimana aku beragama dan berhubungan dengan Tuhanku.
Setelah itu........
Aku ke gereja walau tak sesering beberapa temanku.
Aku berdoa walo tak setaat yang lain.
Aku memang jarang membaca kitab suci, dan membukanya ketika aku benar-benar ingin.
Aku berpacaran dengan siapapun yang kucintai tak peduli agamanya apa.
Aku sangat menghayati lagu-lagu gerejaku, tapi tak menutup telingan nyanyian shadu dari kepercayaan lain.
Aku mengutuk pengebom atau perusak gereja, atau tempat ibadah yang lain.
Aku berusaha berkomentar ke orang lain, baik yang sama agamanya ataupun yang tidak, bagaimana  cara mereka beritual, beragama atau berTuhan.
.........................................
Memang sampai dengan saat ini bagaimana hubungan kita dengan Tuhan sering dinilai dengan rajin enggaknya berdoa. Padahal ga kalah penting bagaimana kita ke sesama, bagus kalo bisa imbang dua-duanya. Ketika bagus kedua-duannya, bagus salah satunya atau tidak keduanya pun aku ga punya hak menilai hubungan seseorang dengan Tuhannya. Jadi, aku ga peduli mau dikomen sperti apa soal bagaimana aku beragama, apalagi soal berTuhan. That's my very personal business man......


No comments:

Post a Comment