Lampir aku memanggilnya. Tak mau kalah dia memanggilku mak tiri. Sbuah persahabatan yang indah......
Kami dipertemukan pada waktu masih bekerja di salah satu bank swasta terbesar di negara ini. Dalam hukum divisi aku, senior berhak cuek terhadap yuniornya. Begitu pun aku yang saat itu kebetulan menjadi seniornya, wlo secara umur dia lebih tua. Entah memang dia lah yang sang empunya hidup kirimkan untukku sebagai sahabat atau bagaimanapun itu terjadinya, kami dipertemukan dalam satu tim dan menjadi partner control satu sama lain. Dari sanalah kami mulai saling mengenal dan semakin dekat.
Makan bareng, pulang bareng, belanja bareng atau nongkrong di kamarku sampai larut malam. Untung kos kami dekat jadi ga pernah masalah dengan waktu. Sampai akirnya dia memutuskan resign duluan, aku tak bersedih karena kami masih dekat secara jarak maupun kehadiran. Dan ketika aku memutuskan untuk menyusul resign dan mengungsi sementara ke tempat lain pun kami masih dekat. Bahkan tempatku menjadi alternatif kalau dia lagi punya masalah dan mau dengan dunianya sendiri dulu. Saat itu dia juga pergi dari kawasan kami sih.
Kemudian dua tahun lalu, aku mendapat kerjaan baru dan tak lama dia juga mendapat kerjaan baru lagi. Kami merasa perlu kembali ke kawasan kami mengingat jarak yang lebih dekat dengan kantor baru kami masing-masing. Tak hanya kembali tapi kami memutuskan bersama.
Yah, mungkin dulu waktu masih di bank pola pikir kami sama. Namun waktu dan proses membuatnya berbeda. Dia bilang dulu kami masih satu jalan, tapi saat ini kami berada di jalur yang berbeda namun tetap suport satu sama lain.
Awal-awal bersama tentu saja banyak penyesuaian. Beda pendapat dll tak jarang terjadi di awalnya. Sampai kami akirnya menurunkan ego masing-masing dan bertemu di titik tengah, berjalan dengan langkah yang sama walo beda jalur.
Saling menghormati dan menghargai, saling suport, saling ejek (bercanda) dll. Kami sudah memahami satu sama lain sehingga tak banyak kata yang harus diucapkan untuk mengetahui apa yang dihati. Kemarin kami juga heran kok bisa ya padahal kan sama-sama keras. Bahkan satu sama lain tau rahasia terdalam hidup kami. We lucky to have each other......
Dan disaat perih yang akir-akir ini kualami pun dia lah yang ada. Memelukku ketika aku menangis, mendengar keluh kesahku dan menerima diriku apa adanya pastinya. Disaat perih seperti ini terkadang aku berpikir enak kali ya kalau sering dapat tugas keluar, bisa sebentar melarikan diri. Ketika kami membahasnya dia langsung protes ga mau terlalu sering ditinggal, lebih baik aku dengan kerjaanku yang seperti sekarang aja ga berubah. Hehehehe........lucumelihat ekspresinya waktu itu. Ada benarnya juga sih, emang lebih enak begini.
Seperti tahun kemarin, akir tahun ini masing-masing kami menemukan seseorang dalam hidup. Telah banyak suka duka kami lalui bersama. Aku tau dan sadar suatu saat akan pisah untuk bersama pasangan masing-masing, dalam hati berdoa semoga walau pasti akan ada perubahan namun tetap dapat terjaga. Amin.
22/11/2011
Kami dipertemukan pada waktu masih bekerja di salah satu bank swasta terbesar di negara ini. Dalam hukum divisi aku, senior berhak cuek terhadap yuniornya. Begitu pun aku yang saat itu kebetulan menjadi seniornya, wlo secara umur dia lebih tua. Entah memang dia lah yang sang empunya hidup kirimkan untukku sebagai sahabat atau bagaimanapun itu terjadinya, kami dipertemukan dalam satu tim dan menjadi partner control satu sama lain. Dari sanalah kami mulai saling mengenal dan semakin dekat.
Makan bareng, pulang bareng, belanja bareng atau nongkrong di kamarku sampai larut malam. Untung kos kami dekat jadi ga pernah masalah dengan waktu. Sampai akirnya dia memutuskan resign duluan, aku tak bersedih karena kami masih dekat secara jarak maupun kehadiran. Dan ketika aku memutuskan untuk menyusul resign dan mengungsi sementara ke tempat lain pun kami masih dekat. Bahkan tempatku menjadi alternatif kalau dia lagi punya masalah dan mau dengan dunianya sendiri dulu. Saat itu dia juga pergi dari kawasan kami sih.
Kemudian dua tahun lalu, aku mendapat kerjaan baru dan tak lama dia juga mendapat kerjaan baru lagi. Kami merasa perlu kembali ke kawasan kami mengingat jarak yang lebih dekat dengan kantor baru kami masing-masing. Tak hanya kembali tapi kami memutuskan bersama.
Yah, mungkin dulu waktu masih di bank pola pikir kami sama. Namun waktu dan proses membuatnya berbeda. Dia bilang dulu kami masih satu jalan, tapi saat ini kami berada di jalur yang berbeda namun tetap suport satu sama lain.
Awal-awal bersama tentu saja banyak penyesuaian. Beda pendapat dll tak jarang terjadi di awalnya. Sampai kami akirnya menurunkan ego masing-masing dan bertemu di titik tengah, berjalan dengan langkah yang sama walo beda jalur.
Saling menghormati dan menghargai, saling suport, saling ejek (bercanda) dll. Kami sudah memahami satu sama lain sehingga tak banyak kata yang harus diucapkan untuk mengetahui apa yang dihati. Kemarin kami juga heran kok bisa ya padahal kan sama-sama keras. Bahkan satu sama lain tau rahasia terdalam hidup kami. We lucky to have each other......
Dan disaat perih yang akir-akir ini kualami pun dia lah yang ada. Memelukku ketika aku menangis, mendengar keluh kesahku dan menerima diriku apa adanya pastinya. Disaat perih seperti ini terkadang aku berpikir enak kali ya kalau sering dapat tugas keluar, bisa sebentar melarikan diri. Ketika kami membahasnya dia langsung protes ga mau terlalu sering ditinggal, lebih baik aku dengan kerjaanku yang seperti sekarang aja ga berubah. Hehehehe........lucumelihat ekspresinya waktu itu. Ada benarnya juga sih, emang lebih enak begini.
Seperti tahun kemarin, akir tahun ini masing-masing kami menemukan seseorang dalam hidup. Telah banyak suka duka kami lalui bersama. Aku tau dan sadar suatu saat akan pisah untuk bersama pasangan masing-masing, dalam hati berdoa semoga walau pasti akan ada perubahan namun tetap dapat terjaga. Amin.
22/11/2011
No comments:
Post a Comment