April 2011
Pada waktu itu artikel ini ditulis untuk memenuhi permintaan panitia untuk membuat dua artikel sbagi tugas akhir pelatihan, pertama mengenai pelatihannya sendiri dan kedua mengenai yang menarik dari pelatihan itu. Ku pikir walaupun late post tapi tidak ada salahnya artikel ini dipublish, untuk sharing aja
Pada waktu itu artikel ini ditulis untuk memenuhi permintaan panitia untuk membuat dua artikel sbagi tugas akhir pelatihan, pertama mengenai pelatihannya sendiri dan kedua mengenai yang menarik dari pelatihan itu. Ku pikir walaupun late post tapi tidak ada salahnya artikel ini dipublish, untuk sharing aja
Kalau saya ditanya hal apa yang membuat shock di
pelatihan 'seksualitas, kesehatan dan hak seksual dan reproduksi serta gender',
saya jadi bingung juga menjawabnya. Kalau saya pribadi banyak informasi baru
berkaitan soal medis yang saya dapatkan tapi tidak terlalu shock juga sih
karena ilmu pengetahuan kan memang selalu berkembang.
Kemungkinan seorang laki-laki menyusui memang tidak
pernah saya pikirkan sebelumnya tapi dengan segala kemajuan teknologi saat ini
saya kira itu memang bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Bahkan saya jadi
berpikir liar mungkin suatu hari nanti supaya mendapat anak yang cakap dan
pintar, reproduksi tanpa perlu berhubungan seksual dengan memilih DNA-DNA yang berkualitas terbaik dari seorang
laki-laki dan perempuan. Yah namanya juga berimajinasi liar……
Selanjutnya penggunaan alat kontrasepsi hormonal
yang terus-menerus ternyata tidak baik bagi kesehatan. Wah jadi berpikir harus
cepat-cepat memberi tahu tante mapupun teman-teman saya nih. Memang ya, dari
dulu perempuan itu selalu dijadikan korban di budaya patriarki. Perempuanlah
yang selalu dicekoki bahkan tidak sedikit dipaksa menggunakan alat kontrasepsi
hormonal, sedangkan laki-laki tidak pernah atau sangat jarang sekali dipaksa
menggunakan kondom. Patriarki….patriarki…….sudah
sangat merasuk di segala aspek kehidupan untuk membatasi perempuan.
Saya
juga dapat informasi kalau sekarang di Puskesmas Tebet ada poli konsultasi
tentang kesehatan reproduksi dan katanya dijaga kerahasiaannya. Wow, ini baru kejutan
yang menyenangkan. Selama ini memeriksakan kesehatan organ reproduksi hanya
menjadi “milik” pasangan suami istri saja. Bagaimana tidak, ketika ingin
memeriksakan kesehatan organ reproduksi akan langsung ditanya nama suami. Kalau
dijawab belum menikah pasti sudah langsung distigma macam-macam. Pengalaman ini
terjadi ketika saya mengantar teman saya ke klinik karena sudah enam bulan
tidak menstruasi. Karena di klinik swasta petugas memang tidak terlalu ambil
pusing dengan calon pasien yang mendaftar, walau mungkin masih suka berkomentar
kalau pasiennya sudah pergi. Tapi coba kalau seorang perempuan yang belum
menikah ke rumah sakit pemerintah atau puskesmas untuk berkonsultasi dengan
dokter kandungan, petugas pasti sudah akan banyak berkomentar dan
menstigmatisasi perempuan nakal lah, ga perawan lah, dan sebagainya. Itulah
realita di masyarakat kita, suka mencampuri hak dan privasi orang lain,
mendewa-dewakan moral tapi tak segan juga melakukan premanisme dan menganggap
seks sangat tabu untuk dibicarakan. Padahal setiap perempuan baik menikah
maupun belum menikah memiliki hak yang sama atas pelayanan kesehatan organ
reproduksi serta hak atas akses informasi yang sama berkaitan dengan organ
reproduksi.
Hal ini membuat saya berpikir pendidikan seks bagi
masyarakat itu sudah merupakan tindakan yang harus segera dilakukan. Alumni
pelatihan ini diharapkan dapat melakukan pendidikan tentang seksualitas,
kesehatan dan hak reproduksi dan seksual serta gender di komunitasnya. Semoga
saja bisa menjadi getok tular berangkangkat dari komunitas yang kecil namun
harapannya bisa menyebar ke masyarakat yang lebih luas lagi.
Kita juga perlu berdiskusi dengan kementrian
kesehatan untuk memasukkan tema ini ke dalam kurikulum pendidikan. Harapannya
tidak hanya sebatas pengenalan tapi juga bisa lebih mendalam dan mungkin
dilakukan secara berjenjang (bagi pelajar SD, SMP, SMA dan mungkin mahasiswa). Tapi
sebelum mereka diajak berdialog mereka diberi pelatihan dulu kali ya biar tidak
salah paham. Saya suka heran mendengar komen bahwa memberikan pendidikan seks
berarti mengajarkan untuk melakukan hubungan seksual secara bebas. Waduh,
sempit sekali pemikiran yang seperti ini. Parahnya pemikiran yang sempit inilah
yang masih banyak ada di kepala-kepala aparat pemerintah. Kalau orang muda akan
berkomentar : capek deh…..
Masih soal bagaimana alumni ini nantinya melakukan
pendidikan di komunitasnya, saya sangat berharap bisa segera dibuat group
tertutup di facebook untuk ajang kita sharing pengalaman. Mohon dimaklumi saya
kan bukan dari kalangan medis jadi khusus soal kesehatan reproduksi masih butuk
waktu untuk menghapal semua organ, penyakit dan lain-lainnya itu. Kalau bisa
disharing pertanyaan-pertanyaan apa yang sering muncul berkaitan dengan kespro.
Pelatihan ini menginspirasi untuk membuat pendidikan
dulu di lingkungan kantor (internal) dan teman-teman dekat. Kebetulan juga
dalam waktu dekat memang akan ada pelatihan untuk aparat mengangkat isu sogie,
jadi pas sekali setelah pelatihan langsung mempraktekkan.
No comments:
Post a Comment