Feminist....di pikiran aku ketika mendengar kalimat ini adalah cewek independent, ga suka ikutin aturan adat, kerjaanya belain hak-hak perempuan.
Namun dalam hatiku, aku ingin tahu lebih banyak apa itu feminism dan feminist. Jadi ketika ada training soal feminist legal theory and practice tingkat regional dari APWLD, aku nekad apply aja. Aku tahu aku bukan lawyer, tapi seorang staff national human rights institution.Yah aku kategorikan diriku sendiri aktivis lah.
Diselenggarakan di Bangladesh, limited seat, bukan jaringan APWLD, masih pemula di isu perempuan membuatku sempat tidak pede. Walau kirim tapi seperti ga berani berharap banyak aku jawab formnya based on my experiences and what i knew aja.
Dan di sore itu, ketika sedang membeli pisang goreng kipas yang sudah berhari-hari ku idam-idamkan tiba-tiba trima email pemberitahuan kalo aku ketrima dan harus siap-siap pergi ke Bangladesh. Whattttttttt, aku ga percaya ternyata aku ketrima. I was so happy.
Aku sadar diri klo representative dari Indonesia, jadi aku belajar dikit soal isu-isu perempuan. Banyak yang membantu, terutama teman-teman di Komper. Thank you to them lah.
Tapi ada juga teman yang tanya ngapain sih training kok di Bangladesh yang jelas negara miskin gitu. Mereka ga liat dan ga pernah tanya gimana aku bisa keseleksi ikut training itu. Walaupun di Bangladesh, bagiku ini prestasi, tapi kebanyakan orang ini bukan apa-apa.
Hari H pun tiba. untung dah punya pengalaman pergi ke Filipin sendiri jadi dah ga canggung lagi. Jakarta-Malaysia lumayan lancar, cuman lama banget parkir pesawatnya. Alhasil aku harus lari-lari ke gate Bangladeh karena tinggal satu jam lagi. Untungnya aku cek dulu jadi aware klo ternyata pindah gate.
Sampai di gate-nya, buset antrian panjang kali. Agak mundur sih berangkatnya karena antri masuknya. Di pesawat ramai banget tuh mereka. Jadi inget sebagian TKI kita. Ramai, ngeyelan sampai pramugarinya harus teriak-teriak. Bahkan digodain pula aku di pesawat. Arghhhhh, waktu itu aku berharap semoga cepat darat aja.
Akirnya mendarat lah pesawat itu. stelah imigrasi yang panjang, aku keluar dan sudah ditunggu pegawai hotel. Ga bisa bayangin gimana kalau ga ada jemputan. Aku sampai itu dah jam satuan malam, tapi banyak sekali orang yang berdiri di luar pagar ga tau mereka lagi apa. Dan mobil jemputannya pun non ac, sedan yang udah agak lama gitu. Beda lah ama pengalaman di Filipin yang serba nyaman, sangat nyaman malah. Tapi orang hotelnya baik-baik. ramah dan helpful.
Karena hari pertama aku ga ada agenda apa-apa, sore harinya jalan-jalan ke pasar pengen cari sari. Haduhhhhh, macet banget bhok. Bajag, becak, mobil semuanya pada pengen duluan, saling nyalain klakson dan ga ada lampu lalu lintasnya. Alhasil macet ga jelas saling serobot semua. Mana naek bajagnya dah kayak ikut F1, cukup menegangkan buatku. Tapi buat temenku dari Jepang pengalaman ini sangat-sangat menegangkan.
Acaranya seru. Trainingnya partisipatif, ada malam solidaritas, banyak sharing yang di dapat, banyak ilmu yang didapat juga. Walau aku satu-satunya yang dari NHRI tapi tetep pede aja lah, dan aku ga ada gap pengetahuan antar peserta jadi enak, untung aku dah berbekal. Hehehehe. Ada kejadian seru pas diskusi kelompok soal penis, vagina dan koin. Lucu tapi ga usak diomongin lah (biar pada penasaran). Tiap peserta juga diminta mempresentasikan salah satu bacaan yang jadi bahan readingnya. Aku milih soal penyerangan lgb adlah bentuk fundamentalisme.
Bangladesh tuh panas kayak indonesia jadi ga banyak efek lah cuacanya buatku. Tapi soal makanan, haduhhh perutku dah ga bisa kompromi di hari keempat. Mual, muntah, pusing. Langsung black list kari dan santan selama dua minggu ke depan kayaknya. Sampai suatu malam nekad keluar buat cari makan dan ketemu ma AW. ya ampun enak banget deh rasanya.
Panitia lokalnya (ASK) keren bhok, semua kebutuhan training tersedia. Trainernya juga ok, bahkan salah satu trainernya begitu menginspirasi aku. Mungkin ada masa lalu yang pahit, tapi kehidupan harus berjalan dan lebih baik bukan hanya kita tapi juga orang lain. Thank you Sanayya.
Walau cukup menyenangkan, tapi kangen sama jeyekku. Hari-hari trakir, di satu sisi ga sabar pengen pulang, di sisi lain sedih berpisah. Yah akirnya waktunya tiba, beberapa teman dekat mengatar kepergianku. Hiks, will miz them much. thank you gals.
Bandara sana ga ada airport tax tapi petugasnya minta tips. aku dah ga ada taka, ku sodorin 1$ pada ga mau dan minta lagi. Aku males lah soalnya uang yang lain5$, sayang lah klo buat tips. walo mereka agak ngomel aku cuek aja jalan, wakakakakakakaka.
Bingung di bandara karena ga ada papan petunjuknya. Bingung cari jadi harus tanya-tanya. Begitu selesai check in dan masuk ruang tunggu rasanya seneng banget. Sayangnya perutku masih ga enak malam itu. Suasana bising dan perut ga enak bikin aku menderita dalam perjalanan ke Malaysia ini. Mana yang duduk sebelahku gel rambutnya beraroma kuat lagi, pengen pingsan rasanya aku. Pemberitahuan akan segera mendarat tuh hal yang sangat melegakan saat itu.
Di malaysia kenalan sama satu ibu yang baru pulang dari Frankfurt, aku kapan ya bisa kesana.... Dia suruh aku tidur dulu saking kucelnya aku dan masih 1,5 jam lagi. Baek banget tuh ibu, mau bangunin saat check in tiba. Begitu naek di pesawat langsung minta selimut dan tidurrrrrr. Dibangunin mbak pramugarinya buat makan tapi ga kumakan nasinya. Cuma makan kue stengah ma coklatnya aku simpan. Habis itu tidur lagi sampai mendarat. Karena dah lemes langsung pulang by taxy dan begitu sampai bersih-bersih seperlunya trus tidur sampai jeyekku datang bawa makan dan nyuruh makan. Habis itu tidur lagi,kebangun karena nyokap telp. Akirnya mandi dan baru deh kerasa, aku dah pulang.
Namun dalam hatiku, aku ingin tahu lebih banyak apa itu feminism dan feminist. Jadi ketika ada training soal feminist legal theory and practice tingkat regional dari APWLD, aku nekad apply aja. Aku tahu aku bukan lawyer, tapi seorang staff national human rights institution.Yah aku kategorikan diriku sendiri aktivis lah.
Diselenggarakan di Bangladesh, limited seat, bukan jaringan APWLD, masih pemula di isu perempuan membuatku sempat tidak pede. Walau kirim tapi seperti ga berani berharap banyak aku jawab formnya based on my experiences and what i knew aja.
Dan di sore itu, ketika sedang membeli pisang goreng kipas yang sudah berhari-hari ku idam-idamkan tiba-tiba trima email pemberitahuan kalo aku ketrima dan harus siap-siap pergi ke Bangladesh. Whattttttttt, aku ga percaya ternyata aku ketrima. I was so happy.
Aku sadar diri klo representative dari Indonesia, jadi aku belajar dikit soal isu-isu perempuan. Banyak yang membantu, terutama teman-teman di Komper. Thank you to them lah.
Tapi ada juga teman yang tanya ngapain sih training kok di Bangladesh yang jelas negara miskin gitu. Mereka ga liat dan ga pernah tanya gimana aku bisa keseleksi ikut training itu. Walaupun di Bangladesh, bagiku ini prestasi, tapi kebanyakan orang ini bukan apa-apa.
Hari H pun tiba. untung dah punya pengalaman pergi ke Filipin sendiri jadi dah ga canggung lagi. Jakarta-Malaysia lumayan lancar, cuman lama banget parkir pesawatnya. Alhasil aku harus lari-lari ke gate Bangladeh karena tinggal satu jam lagi. Untungnya aku cek dulu jadi aware klo ternyata pindah gate.
Sampai di gate-nya, buset antrian panjang kali. Agak mundur sih berangkatnya karena antri masuknya. Di pesawat ramai banget tuh mereka. Jadi inget sebagian TKI kita. Ramai, ngeyelan sampai pramugarinya harus teriak-teriak. Bahkan digodain pula aku di pesawat. Arghhhhh, waktu itu aku berharap semoga cepat darat aja.
Akirnya mendarat lah pesawat itu. stelah imigrasi yang panjang, aku keluar dan sudah ditunggu pegawai hotel. Ga bisa bayangin gimana kalau ga ada jemputan. Aku sampai itu dah jam satuan malam, tapi banyak sekali orang yang berdiri di luar pagar ga tau mereka lagi apa. Dan mobil jemputannya pun non ac, sedan yang udah agak lama gitu. Beda lah ama pengalaman di Filipin yang serba nyaman, sangat nyaman malah. Tapi orang hotelnya baik-baik. ramah dan helpful.
Karena hari pertama aku ga ada agenda apa-apa, sore harinya jalan-jalan ke pasar pengen cari sari. Haduhhhhh, macet banget bhok. Bajag, becak, mobil semuanya pada pengen duluan, saling nyalain klakson dan ga ada lampu lalu lintasnya. Alhasil macet ga jelas saling serobot semua. Mana naek bajagnya dah kayak ikut F1, cukup menegangkan buatku. Tapi buat temenku dari Jepang pengalaman ini sangat-sangat menegangkan.
Acaranya seru. Trainingnya partisipatif, ada malam solidaritas, banyak sharing yang di dapat, banyak ilmu yang didapat juga. Walau aku satu-satunya yang dari NHRI tapi tetep pede aja lah, dan aku ga ada gap pengetahuan antar peserta jadi enak, untung aku dah berbekal. Hehehehe. Ada kejadian seru pas diskusi kelompok soal penis, vagina dan koin. Lucu tapi ga usak diomongin lah (biar pada penasaran). Tiap peserta juga diminta mempresentasikan salah satu bacaan yang jadi bahan readingnya. Aku milih soal penyerangan lgb adlah bentuk fundamentalisme.
Bangladesh tuh panas kayak indonesia jadi ga banyak efek lah cuacanya buatku. Tapi soal makanan, haduhhh perutku dah ga bisa kompromi di hari keempat. Mual, muntah, pusing. Langsung black list kari dan santan selama dua minggu ke depan kayaknya. Sampai suatu malam nekad keluar buat cari makan dan ketemu ma AW. ya ampun enak banget deh rasanya.
Panitia lokalnya (ASK) keren bhok, semua kebutuhan training tersedia. Trainernya juga ok, bahkan salah satu trainernya begitu menginspirasi aku. Mungkin ada masa lalu yang pahit, tapi kehidupan harus berjalan dan lebih baik bukan hanya kita tapi juga orang lain. Thank you Sanayya.
Walau cukup menyenangkan, tapi kangen sama jeyekku. Hari-hari trakir, di satu sisi ga sabar pengen pulang, di sisi lain sedih berpisah. Yah akirnya waktunya tiba, beberapa teman dekat mengatar kepergianku. Hiks, will miz them much. thank you gals.
Bandara sana ga ada airport tax tapi petugasnya minta tips. aku dah ga ada taka, ku sodorin 1$ pada ga mau dan minta lagi. Aku males lah soalnya uang yang lain5$, sayang lah klo buat tips. walo mereka agak ngomel aku cuek aja jalan, wakakakakakakaka.
Bingung di bandara karena ga ada papan petunjuknya. Bingung cari jadi harus tanya-tanya. Begitu selesai check in dan masuk ruang tunggu rasanya seneng banget. Sayangnya perutku masih ga enak malam itu. Suasana bising dan perut ga enak bikin aku menderita dalam perjalanan ke Malaysia ini. Mana yang duduk sebelahku gel rambutnya beraroma kuat lagi, pengen pingsan rasanya aku. Pemberitahuan akan segera mendarat tuh hal yang sangat melegakan saat itu.
Di malaysia kenalan sama satu ibu yang baru pulang dari Frankfurt, aku kapan ya bisa kesana.... Dia suruh aku tidur dulu saking kucelnya aku dan masih 1,5 jam lagi. Baek banget tuh ibu, mau bangunin saat check in tiba. Begitu naek di pesawat langsung minta selimut dan tidurrrrrr. Dibangunin mbak pramugarinya buat makan tapi ga kumakan nasinya. Cuma makan kue stengah ma coklatnya aku simpan. Habis itu tidur lagi sampai mendarat. Karena dah lemes langsung pulang by taxy dan begitu sampai bersih-bersih seperlunya trus tidur sampai jeyekku datang bawa makan dan nyuruh makan. Habis itu tidur lagi,kebangun karena nyokap telp. Akirnya mandi dan baru deh kerasa, aku dah pulang.
No comments:
Post a Comment