Kemarin sore aku membaca kronologis penyegelan gereja-gereja di Aceh. Miris sekali, tambah miris dengar statement dr polisi dan camatnya. Bahkan dengan tegas berani mengatakan penyegelan adalah harga mati tidak bisa ditawar lagi. Come on, kebebasan beragama masih menjadi tanggungan pemerintah pusat deh kalau ga salah, tidak diatur oleh pemerintah daerah (koreksi bila aku salah).
Tak perlu jauh-jauh di Aceh, disinipun HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin masih belum bisa beribadah di gereja mereka sendiri. Tak kalah miris dengan yang di Aceh, bahkan keputusan yang sudah memiliki kekuatan hukum pun tak dihirauan oleh yang empunya kekuasaan. Titik cerah baru MAU didapatkan bila dibangun masjid di samping gereja itu, biar seolah terlihat plural dan saling menghormati. Aku sih akan bangga sekali bila ada gereja dan masjid yang dibangun berdampingan yang memang dibangun murni rasa saling menghormati dan semangat pluralisme, bukan berdasarkan konflik seperti ini dan buatku hanya pencitraan saja. Tapi aku sih berharap kalau memang itu solusinya, tak menimbulkan konflik baru natinya. Baik masjid maupun gereja saling mengatur volume suara dan kegiatannya agar tidak saling mengganggu. Kalau ini tidak dipikirkan kan hanya meredam konflik sementara saja.
Pendirian gereja katolik di Bekasi pun mulai menghadapi ancaman, didemo oleh 'kelompok' tertentu. pembuatan Gua Maria pun juga.
Belum lagi perayaan waisak pun terancam juga. Agama lokal dan ahmadiyah tak kalah menghadapi ancaman yang sama.
Makin miris ketika pemegang kekuasaan tertinggi tidak berbuat apa-apa. Buat aku dia terkesan cuci tangan, diam dengan semua permasalahan ini. Jajarannya pun tidak berani menindak orang-orang yang jelas mengancam kaum minor yang tinggal di negeri ini.
Dari dulu susah hidup di negeri ini menjadi minor. Tak pernah terlupa dari ingatanku bagaimana aku dipaksa harus menuliskan bismilah di kertas ulangan tapi tak pernah kulakukan alhasil nilaiku tak pernah lebih dari 7 padahal semua teman kelas juga tau aku jago dibidang ini (sombong dikit lah), dan begitu puas aku ketika ujian nasional dapat nilai tertinggi jauh dari yang lain dan guru itu ga bisa menutupi kenyataan yang sebenarnya. Sekarang bukannya lebih baik tapi kok malah lebih susah.
Disaat begini yang aku pikirkan hanyalah keluargaku. Semoga saja di kotaku tak terjadi yang begini. Aku sih ga masalah melihat keberingasan 'kelompok' itu (walau di isu lain), tapi aku ga mau keluargaku yang mengalaminya.
Apa perlu pindah dari sini ke Bali/Manado/Flores/Papua dimana mungkin kami ga mengalami ancaman seperti ini. Tapi apakah itu solusi? Dimana kebebasan beragama dan perlindungan dari pemerintah itu? Apakah UU itu tak dihiraukan lagi?
Kalau SOEGIJA pernah bilang 100% Katolik 100% Indonesia, bisakah di jaman sekarang kalau Indonesia sendiri tidak melindungi minoritasnya?
Tak perlu jauh-jauh di Aceh, disinipun HKBP Filadelfia dan GKI Yasmin masih belum bisa beribadah di gereja mereka sendiri. Tak kalah miris dengan yang di Aceh, bahkan keputusan yang sudah memiliki kekuatan hukum pun tak dihirauan oleh yang empunya kekuasaan. Titik cerah baru MAU didapatkan bila dibangun masjid di samping gereja itu, biar seolah terlihat plural dan saling menghormati. Aku sih akan bangga sekali bila ada gereja dan masjid yang dibangun berdampingan yang memang dibangun murni rasa saling menghormati dan semangat pluralisme, bukan berdasarkan konflik seperti ini dan buatku hanya pencitraan saja. Tapi aku sih berharap kalau memang itu solusinya, tak menimbulkan konflik baru natinya. Baik masjid maupun gereja saling mengatur volume suara dan kegiatannya agar tidak saling mengganggu. Kalau ini tidak dipikirkan kan hanya meredam konflik sementara saja.
Pendirian gereja katolik di Bekasi pun mulai menghadapi ancaman, didemo oleh 'kelompok' tertentu. pembuatan Gua Maria pun juga.
Belum lagi perayaan waisak pun terancam juga. Agama lokal dan ahmadiyah tak kalah menghadapi ancaman yang sama.
Makin miris ketika pemegang kekuasaan tertinggi tidak berbuat apa-apa. Buat aku dia terkesan cuci tangan, diam dengan semua permasalahan ini. Jajarannya pun tidak berani menindak orang-orang yang jelas mengancam kaum minor yang tinggal di negeri ini.
Dari dulu susah hidup di negeri ini menjadi minor. Tak pernah terlupa dari ingatanku bagaimana aku dipaksa harus menuliskan bismilah di kertas ulangan tapi tak pernah kulakukan alhasil nilaiku tak pernah lebih dari 7 padahal semua teman kelas juga tau aku jago dibidang ini (sombong dikit lah), dan begitu puas aku ketika ujian nasional dapat nilai tertinggi jauh dari yang lain dan guru itu ga bisa menutupi kenyataan yang sebenarnya. Sekarang bukannya lebih baik tapi kok malah lebih susah.
Disaat begini yang aku pikirkan hanyalah keluargaku. Semoga saja di kotaku tak terjadi yang begini. Aku sih ga masalah melihat keberingasan 'kelompok' itu (walau di isu lain), tapi aku ga mau keluargaku yang mengalaminya.
Apa perlu pindah dari sini ke Bali/Manado/Flores/Papua dimana mungkin kami ga mengalami ancaman seperti ini. Tapi apakah itu solusi? Dimana kebebasan beragama dan perlindungan dari pemerintah itu? Apakah UU itu tak dihiraukan lagi?
Kalau SOEGIJA pernah bilang 100% Katolik 100% Indonesia, bisakah di jaman sekarang kalau Indonesia sendiri tidak melindungi minoritasnya?
No comments:
Post a Comment