Entri Populer

Saturday, 10 March 2012

Stelah Baca Buku Nikmatnya Mie Remes

Saat ini yang ku butuhkan adalah waktu sendiri. mengecas tenaga agar segala permasalahan cinta, pertemanan, pekerjaan, keluarga dan lain-lain yang menguras tenaga masih sanggup kuhadapi. Kubuka sbuah buku berjudul Nikmatnya Mie Remes yang kmarin baru kubeli tuk temani waktu sendiriku.

Buku itu ternyata membuat slide-slide masalah muncul di otakku namun juga menenangkanku.
Heh........tentang pekerjaanku. Ini adalah pekerjaan yang kuinginkan sejak lama, pekerjaan yang bisa bermanfaat buat orang lain. Terlebih dengan status jaminannya, seharusnya aku bahagia. Kenapa ya dulu aku begitu menginginkannya. Bukan hanya karena permintaan mama, tapi jaminan itu dulu begitu menggiurkanku bila dibanding waktu itu yang ga pasti. Namun setelah masuk, jiwaku justru tambah berontak. Dulu kalau ada yang ga suka, aku bisa bebas bilang ga suka, bisa bebas menentang dan ga akan mau melakukannya. Ternyata disini lebih banyak air mata kesedihan yang mengalir di pipiku karena apa yang ada tak sperti bayanganku. Aku tidak hanya belajar hal-hal baru, aku harus berjuang diterima. Harusnya aku sekarang sudah senang dan tenang, karena mlai diterima. Tapi terkadang idealismeku terlukai, huffff-sakit. Terkadang aku merasa letih karena merasa berjuang sendiri.tapi ya sudahlah, bukannya itu malah akan memintarkanku. Aku masih mau bertahan, aku masih mau berjuang walau mungkin banyak yang ga suka, walau ga banyak yang dukung, walau ga banyak yang setuju, walau mungkin akan banyak halangan-halangan. Namun jika smakin memburuk dan tenaga ini tlah habis, ijinkan aku tuk kembali memilih. Maafkan aku mama karena, walau tak kau tunjukkan padaku, telah membuat menangis ketika ku utarakan niatku ini. Percayalah mama, apapun nanti, aku akan usahakan yang lebih baik dari sekarang. Dan restumu walau berat kau ucapkan, tak perlu cepat kau keluarkan ma karena saat ini aku masih mau berjuang disini. Love u ma.

Tentang pertemanan. Dulu ketika sahabatku mlai berpacaran, mo nyiapain pernikahan atau mendapat anak membuatku banyak kehilangan waktu dengan mereka. Aku tetap mensuport, mendengarkan curhatan, membantu apa yang kubisa walau pilihan hati mreka waktu itu ga kusukai. Awalnya kerenggangan itu terasa sakit, sepi. Aku sering merindukan moment-moment dengan mereka. Tapi aku tak mau komplain, aku tak mau egois karena itu adalah hak mreka. Ketika aku mungkin jadi terlupakan, aku tak marah. Aku tetap keep contact dengan mereka, karena dalam hatiku aku tau sayang dan care mereka buatku akan tetap ada. Namun ada juga yang masih tetap intens walo jauh karena masih sama-sama sendiri. Akhir-akhir ini aku sibuk dengan diriku sendiri, kirim kabar smakin jarang. Justru disaat inilah mereka datang, menyapaku dan menyampaikan betapa rindunya mereka akan kebersamaan dulu. Skarang mreka yang gantian rutin menyapa duluan. Trima kasih teman, maaf aku sering lupa mengontak akhir-akhir ini. Untungnya kalian pengertian dengan ga komplain dan pengertian dengan gantian menyapa duluan. Kalian terbaik dah dalam hidupku. Kalian memahami bagaimana kita masih saling suport walau terbatas ruang dan waktu, kita masih saling mendoakan walau jarang bertemu.

Namun di pertemanan yang lain, ternyata ga bisa begitu. Kalo aku tetap bersikeras dengan pilihanku, maka aku harus trima apapun resikonya dan harus hadapi sendiri ga bisa skedar share untuk membuat hati plong. huffff, rasanya berat sekali. Cintaku terkadang membuatku sedih dengan mengacuhkanku, sobatku membuatku sedih dengan mendiamkanku. Tapi thanks to this book, dia mengingatkaku pada sesuatu-pasrah. Ketika aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, ya udah, menyerahkan aja pada yang maha mengatur.

Slide-slide masalah yang berjibun trus berseliweran. Heffffff, sedikit plong sih dengan menumpahkannya. Inilah hidup, harus penuh liku tapi ga boleh nyerah-itulah pelajaran dari buku Nikmatnya Mie Remes.

No comments:

Post a Comment